0
Dikirim pada 05 Desember 2016 di Pox Kabayan Pox Deui

Betapa dahsyatnya banjir di Kota Bandung akhir-akhir ini,... padahal itu banjir tergolong banjir cileungcang super besar. Dikatakan sebagai banjir cileuncang karena tak ada sungai-sungai besar yang mengalir ke Kota Bandung yang bisa menimbulkan banjir bandang seperti terjadi di Garut akibat kiriman air bah yang mendadak dari sungai Cimanuk. Karena banjir di kota Bandung akhir-akhir ini "lebih cenderung" dipicu oleh besarnya volume curah hujan yang "dibahekeun" dari atas langit Kota Bandung. Namun kedahsayatan banjir di kota yang kini dipimpin seorang Master Urban Development itu seakan cerita dongeng saja. Betapa tidak!!... Jalan-jalan protokol "tiba-tiba" saja selayaknnya aliran sungai Cimanuk... sampai-sampai beberapa mobil terbawa hanyut aliran banjir cileuncang di kota Bandung tersebut.

Namun sedahsyat apapun aliran banjir cileuncang yang melanda Kota Bandung itu... tidak serta merta meninggalkan bekas-bekas yang nyata pada batu-batu besar yang dilewati aliran air banjir yang "ngagulidag" tiada tara tersebut hingga mampu menghanyutkan mobil-mobil itu.

Tapi bandingkan dengan tetes demi tetes "cikaracak" yang jatuh menimpa permukaan batu yang keras... walau tidak akan pernah sedahsyat aliran "cileuncang" yang membanjiri Kota Bandung... Tapi sungguh tiada terkira makna dan hakikat serta hikmah dibalik cikaracak tersebut .... karena "setetes" demi setetes air yang terus dawam menetesi kepada batu yang sekeras apapun itu "ternyata mampu" meninggalkan bekas yang nyata... yaitu berupa "legok-nya"  (pothole) pada permukaan batu nan keras tersebut.

Subhanalloh... betapa besar hikmah yang dianugrahkan Alloh SWT dari "Revolusi Setetes Air" yang mampu meninggalkan bekas pada permukaan batu yang keras... berbanding terbalik dengan dahsyatnya banjir cileuncang yang begitu dahsyat namun tak bisa meninggalkan jejaknya pada permukaan batu keras yang dilewatinya.

Beberapa waktu berselang setelah Alloh SWT menampilkan episode banjir cilencang "super besar" itu... maka berlangsung pula banjir ummat islam yang melanda Kota Jakarta... yang Kehebohannya sungguh menenggelamkan kehebohan banjir kiriman yang sering melanda Jakarta ......yang mana setiap episode banjir di jakarta itu selalu saja jadi komoditas politik untuk "menjatuhkan" kredibilitas seorang Gubernur Non-muslim yang kini memimpin Kota Jakarta.

Tak ubahnya dengan banjir kiriman .. maka banjir ummat islam ke Jakarta itu menjadi komoditas politik pula dalam rangka "menjatuhkan" vonis bersalah kepada Sang Gubernur Non Muslim tersebut atas tuduhan menistakan "terjemahan" Al-Maidah 51.... Mengapa perlu ditegaskan bahwa beliau menistakan "terjemahan" Al-Maidah 51?.... karena dalam pidatonya di Kepulauan seribu itu "tidak pernah' terucap dari mulut toiletnya itu kalimah suci "qiroat" al maidah 51 sebagaimana kalau kita "Iqro" ayat tersebut dengan tartil.... Beliau hanya mempersoalkan penggunaan "terjemahan" Al-Maidah 51 tersebut oleh lawan-lawan politiknya agar tidak memilih dirinya sebagai "pemimpin" non-muslim.

Padahal kalau kita cermati dengan penuh keikhlasan tentulah menjadi rancu jika maknawiyah AWLIYA dalam Al-Maidah 51 itu semata-mata harus diterjemahkan menjadi "pemimpin" saja... apalagi pemimpin seperti seorang gubernur ... sebab istilah yang tepat untuk pemimpin-pemimpin seperti gubernur itu adalah menggunakan "term" WULAH dan bukan AWLIYA (yang bentuk tunggalnya adalah walii).... dan sangatlah tidak mungkin kalau seorang walii bagi ummat islam itu adalah non-muslim.

Terlepas dari kontroversial HASIL terjemahan Al-Maidah 51 itu... perlu selalu kita tegaskan bahwa "terjamahan" Al-Quran berbeda hakikatnya dengan Al-Quran Al-Karim yang tersimpan di Lauhul Mahfuzh... Oleh sebab itulah, Ahok harus dituduh menistakan "terjemahan" Al-Maidah 51 yang mana hasil terjemahannya sebagai "pemimpin' (dalam konotasi Wulah dan bukan Awliya itu) benar-benar dapat digunakan sebagai komoditas dan  "kepentingan" politik semata, dalam rangka menyongsong musim kompetisi rebutan jabatan oleh para peminta-minta jabatan... Padahal tegas nian Sabda Rasulullah SAW bahwa Ummat "dilarang keras" meminta-minta jabatan seperti yang tengah diperebutkan di musim pilkada serentak.

Namun dalam kepentingan politik "seakan-akan" boleh menghalalkan segala cara ...sampai-sampai hakikat Al-Maidah 51 menjadi terpinggirkan bahkan "sistem kepemimpinan" AWLIYA yang termaktub di dalamnya tidak lagi diterapkan dalam kehidupan ummat islam masa kini karena sedang mengandrungi politik "kompetisi" perebutan "satu-satunya" jabatan pemimpin pemerintahan dalam musim pilkada... sehingga pengunaan "terjemahan" AWLIYA menjadi "pemimpin" itu menjadi lebih mengemuka dengan mengkait-kaitkannya dengan "keharaman' menjadikan AWLIYA dari kalangan non-muslim.... padahal sekali lagi perlu ditegaskan bahwa AWLIYA itu bukanlah WULAH seperti halnya jabatan Gubernur DKI yang sedang diperebutkan di musim pilkada serentak.

Tak ayal lagi dengan adanya kepentingan politik ,maka yang awalnya "tuduhan" menistakan terjemahan Al-Maidah 51 itu kemudian melebar kepada masalah penistaan agama dan juga penghinaan ulama yang dikaitkan dengan "ujaran" dari Ahok yang menyoal penggunaan "terjemahan" Al-Maidah 51 tersebut sebagai alat kebohongan oleh lawan-lawan politiknya untuk menjegalnya dalam pemilihan pemimpin.... Kepentingan politik kemudian melebarkan pula hal itu menjadi isu penistaan agama. 

Dan ummat langsung bereaksi dan terpanggil untuk berbondong-bondong MEMBELA ISLAM dari hasil pelebaran masalah penggunaan "terjemahan" Al-Maidah 51 sebagai alat kebohongan... sungguh besar reaksi ummat itu yang bergerak seibarat dahsyatnya "banjir bandang" yang menerjang Jakarta.

Namun sedahsyat apapun terjangan banjir bandang selalu saja "tak mampu" meninggalkan bekas terjangannya pada batu yang keras... berbeda halnya dengan "setetes-demi setetes air" cikaracak yang lambat laun meninggalkan bekas kedawaman tetesannya pada permukaan batu yang keras.

Inilah saat yang krusial untuk menghisab dampak aksi Membela Islam dengan metode banjir bandang ummat islam ke Jakarta... yang selalu saja tak lepas dari anekdot "easy come easy go" dalam arti tidak menempuh keutamaan dawam dalam rangka membela Islam dengan "setetes" amalan yang kecil namun rutin dan kontinyu.

Nampak dari aksi BELA ISLAM melalui metoda banjir bandang ummat itu tak ditelaah sama sekali pentingnya menegakkan kembali sistem kepemimpinan AWLIYA yang berbeda dengan "tampuk" kepemimpinan WULAH... yang dalam sistem kepemimpinan AWLIYA tersebut tak tercermin sama sekali peluang bagi aksi rebutan jabatan WULAH.... akibat struktur hirarkie AWLIYA itu sendiri bersifat "kolektif kolegial" dan mekanisme penetapan penjabatnya tidak ditempuh melalui upaya meminta-minta jabatan... sebab kapasitas seorang Walii sebagai komponen AWLIYA itu tidaklah semata-mata bertumpu kepada hasil penilaian dan upaya manusia semata untuk menjadikan "seseorang" sebagai seorang Walii... Sebab semuanya harus tetap dikembalikan kepada Qudrat Irodah Alloh SWT yang mengangkat derajat seseorang berdasarkan kadar ilmu dan ketaqwaannya semata.... dan telah ditetapkan-NYA dalam Al-Maidah 51 bahwa hirarkie sistem kepemimpinan AWLIYA itu harus terbebas dari elemen non-muslim.

Pendek kata betapa Agungnya jika sistem kepemimpinan  AWLIYA itu kembali "ditempuh" ummat melalui metode REVOLUSI SETETES AIR ..... yang walau tak sedahsyat "gulidagnya" banjir bandang namun dapat dipastikan meninggalkan bekas yang nyata pada kerasnya "batu hawa nafsu" manusia yang lebih cenderung kepada ambisi memperebutkan jabatan-jabatan yang fana.

Wallahu 'alam



Dikirim pada 05 Desember 2016 di Pox Kabayan Pox Deui
comments powered by Disqus
Profile

Saya adalah seorang penganut kabayanisme.... manifestasi dari kehanifan Ki sunda menuju keluhuran akhlak dan komitmen menuju sistem muamalah islami dalam masyarakat sunda-padjadjaran. Orang banyak mengira bahwa si kabayan sebagai seorang tokoh pandir... padahal fenomenal-nya adalah korban dari upaya sistematis menghapus kehanifan ki sunda pasca penjajahan mataram hingga berujudkan tokoh paradoksal "Si Borokokok". Tak lekang oleh waktu adalah kehanifan menuju sistem islami yang kaaffah (islamic holisme), dimulai oleh leluhur sunda (prabu wangi) dengan cara menolak sufisme yang di klaim sebagai wujud islam hingga kini. Padahal sufisme adalah salah satu model pengamalan dari aspek mistis dalam keimanan tetapi bukanlah manifestasi utuh dari Dinul islam, apalagi ketika masuk ke tanah sunda sufisme telah berbalut feodalisme dan mistis jawa. Dan kabayan lahir sebagai pemberontak laten atas pereduksian kehanifan sunda oleh penjajah lokal maupun kompeni. Dan tetap menolak segala bentuk reduksionisme dan terus berjuang menuju sistem muamalah nan luhur yang kemudian dikenal sekarang sebagai sistem madani "egaliterianisme" berlandaskan Dinul Islam.... walahu`alam More About me

Page
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 357.880 kali


connect with ABATASA