0


Betapa dahsyatnya banjir di Kota Bandung akhir-akhir ini,... padahal itu banjir tergolong banjir cileungcang super besar. Dikatakan sebagai banjir cileuncang karena tak ada sungai-sungai besar yang mengalir ke Kota Bandung yang bisa menimbulkan banjir bandang seperti terjadi di Garut akibat kiriman air bah yang mendadak dari sungai Cimanuk. Karena banjir di kota Bandung akhir-akhir ini "lebih cenderung" dipicu oleh besarnya volume curah hujan yang "dibahekeun" dari atas langit Kota Bandung. Namun kedahsayatan banjir di kota yang kini dipimpin seorang Master Urban Development itu seakan cerita dongeng saja. Betapa tidak!!... Jalan-jalan protokol "tiba-tiba" saja selayaknnya aliran sungai Cimanuk... sampai-sampai beberapa mobil terbawa hanyut aliran banjir cileuncang di kota Bandung tersebut.
Namun sedahsyat apapun aliran banjir cileuncang yang melanda Kota Bandung itu... tidak serta merta meninggalkan bekas-bekas yang nyata pada batu-batu besar yang dilewati aliran air banjir yang "ngagulidag" tiada tara tersebut hingga mampu menghanyutkan mobil-mobil itu.
Tapi bandingkan dengan tetes demi tetes "cikaracak" yang jatuh menimpa permukaan batu yang keras... walau tidak akan pernah sedahsyat aliran "cileuncang" yang membanjiri Kota Bandung... Tapi sungguh tiada terkira makna dan hakikat serta hikmah dibalik cikaracak tersebut .... karena "setetes" demi setetes air yang terus dawam menetesi kepada batu yang sekeras apapun itu "ternyata mampu" meninggalkan bekas yang nyata... yaitu berupa "legok-nya" (pothole) pada permukaan batu nan keras tersebut.
Subhanalloh... betapa besar hikmah yang dianugrahkan Alloh SWT dari "Revolusi Setetes Air" yang mampu meninggalkan bekas pada permukaan batu yang keras... berbanding terbalik dengan dahsyatnya banjir cileuncang yang begitu dahsyat namun tak bisa meninggalkan jejaknya pada permukaan batu keras yang dilewatinya.
Beberapa waktu berselang setelah Alloh SWT menampilkan episode banjir cilencang "super besar" itu... maka berlangsung pula banjir ummat islam yang melanda Kota Jakarta... yang Kehebohannya sungguh menenggelamkan kehebohan banjir kiriman yang sering melanda Jakarta ......yang mana setiap episode banjir di jakarta itu selalu saja jadi komoditas politik untuk "menjatuhkan" kredibilitas seorang Gubernur Non-muslim yang kini memimpin Kota Jakarta.
Tak ubahnya dengan banjir kiriman .. maka banjir ummat islam ke Jakarta itu menjadi komoditas politik pula dalam rangka "menjatuhkan" vonis bersalah kepada Sang Gubernur Non Muslim tersebut atas tuduhan menistakan "terjemahan" Al-Maidah 51.... Mengapa perlu ditegaskan bahwa beliau menistakan "terjemahan" Al-Maidah 51?.... karena dalam pidatonya di Kepulauan seribu itu "tidak pernah` terucap dari mulut toiletnya itu kalimah suci "qiroat" al maidah 51 sebagaimana kalau kita "Iqro" ayat tersebut dengan tartil.... Beliau hanya mempersoalkan penggunaan "terjemahan" Al-Maidah 51 tersebut oleh lawan-lawan politiknya agar tidak memilih dirinya sebagai "pemimpin" non-muslim.
Padahal kalau kita cermati dengan penuh keikhlasan tentulah menjadi rancu jika maknawiyah AWLIYA dalam Al-Maidah 51 itu semata-mata harus diterjemahkan menjadi "pemimpin" saja... apalagi pemimpin seperti seorang gubernur ... sebab istilah yang tepat untuk pemimpin-pemimpin seperti gubernur itu adalah menggunakan "term" WULAH dan bukan AWLIYA (yang bentuk tunggalnya adalah walii).... dan sangatlah tidak mungkin kalau seorang walii bagi ummat islam itu adalah non-muslim.
Terlepas dari kontroversial HASIL terjemahan Al-Maidah 51 itu... perlu selalu kita tegaskan bahwa "terjamahan" Al-Quran berbeda hakikatnya dengan Al-Quran Al-Karim yang tersimpan di Lauhul Mahfuzh... Oleh sebab itulah, Ahok harus dituduh menistakan "terjemahan" Al-Maidah 51 yang mana hasil terjemahannya sebagai "pemimpin` (dalam konotasi Wulah dan bukan Awliya itu) benar-benar dapat digunakan sebagai komoditas dan "kepentingan" politik semata, dalam rangka menyongsong musim kompetisi rebutan jabatan oleh para peminta-minta jabatan... Padahal tegas nian Sabda Rasulullah SAW bahwa Ummat "dilarang keras" meminta-minta jabatan seperti yang tengah diperebutkan di musim pilkada serentak.
Namun dalam kepentingan politik "seakan-akan" boleh menghalalkan segala cara ...sampai-sampai hakikat Al-Maidah 51 menjadi terpinggirkan bahkan "sistem kepemimpinan" AWLIYA yang termaktub di dalamnya tidak lagi diterapkan dalam kehidupan ummat islam masa kini karena sedang mengandrungi politik "kompetisi" perebutan "satu-satunya" jabatan pemimpin pemerintahan dalam musim pilkada... sehingga pengunaan "terjemahan" AWLIYA menjadi "pemimpin" itu menjadi lebih mengemuka dengan mengkait-kaitkannya dengan "keharaman` menjadikan AWLIYA dari kalangan non-muslim.... padahal sekali lagi perlu ditegaskan bahwa AWLIYA itu bukanlah WULAH seperti halnya jabatan Gubernur DKI yang sedang diperebutkan di musim pilkada serentak.
Tak ayal lagi dengan adanya kepentingan politik ,maka yang awalnya "tuduhan" menistakan terjemahan Al-Maidah 51 itu kemudian melebar kepada masalah penistaan agama dan juga penghinaan ulama yang dikaitkan dengan "ujaran" dari Ahok yang menyoal penggunaan "terjemahan" Al-Maidah 51 tersebut sebagai alat kebohongan oleh lawan-lawan politiknya untuk menjegalnya dalam pemilihan pemimpin.... Kepentingan politik kemudian melebarkan pula hal itu menjadi isu penistaan agama.
Dan ummat langsung bereaksi dan terpanggil untuk berbondong-bondong MEMBELA ISLAM dari hasil pelebaran masalah penggunaan "terjemahan" Al-Maidah 51 sebagai alat kebohongan... sungguh besar reaksi ummat itu yang bergerak seibarat dahsyatnya "banjir bandang" yang menerjang Jakarta.
Namun sedahsyat apapun terjangan banjir bandang selalu saja "tak mampu" meninggalkan bekas terjangannya pada batu yang keras... berbeda halnya dengan "setetes-demi setetes air" cikaracak yang lambat laun meninggalkan bekas kedawaman tetesannya pada permukaan batu yang keras.
Inilah saat yang krusial untuk menghisab dampak aksi Membela Islam dengan metode banjir bandang ummat islam ke Jakarta... yang selalu saja tak lepas dari anekdot "easy come easy go" dalam arti tidak menempuh keutamaan dawam dalam rangka membela Islam dengan "setetes" amalan yang kecil namun rutin dan kontinyu.
Nampak dari aksi BELA ISLAM melalui metoda banjir bandang ummat itu tak ditelaah sama sekali pentingnya menegakkan kembali sistem kepemimpinan AWLIYA yang berbeda dengan "tampuk" kepemimpinan WULAH... yang dalam sistem kepemimpinan AWLIYA tersebut tak tercermin sama sekali peluang bagi aksi rebutan jabatan WULAH.... akibat struktur hirarkie AWLIYA itu sendiri bersifat "kolektif kolegial" dan mekanisme penetapan penjabatnya tidak ditempuh melalui upaya meminta-minta jabatan... sebab kapasitas seorang Walii sebagai komponen AWLIYA itu tidaklah semata-mata bertumpu kepada hasil penilaian dan upaya manusia semata untuk menjadikan "seseorang" sebagai seorang Walii... Sebab semuanya harus tetap dikembalikan kepada Qudrat Irodah Alloh SWT yang mengangkat derajat seseorang berdasarkan kadar ilmu dan ketaqwaannya semata.... dan telah ditetapkan-NYA dalam Al-Maidah 51 bahwa hirarkie sistem kepemimpinan AWLIYA itu harus terbebas dari elemen non-muslim.
Pendek kata betapa Agungnya jika sistem kepemimpinan AWLIYA itu kembali "ditempuh" ummat melalui metode REVOLUSI SETETES AIR ..... yang walau tak sedahsyat "gulidagnya" banjir bandang namun dapat dipastikan meninggalkan bekas yang nyata pada kerasnya "batu hawa nafsu" manusia yang lebih cenderung kepada ambisi memperebutkan jabatan-jabatan yang fana.
Wallahu `alam

Dikirim pada 05 Desember 2016 di Pox Kabayan Pox Deui



Syahdan Prabu Nalendra Sri Baduga Maharaja (berkuasa di Kerajaan Padjadjaran mulai tahun 1482 M) pernah menasehati Putranya Walangsungsang..... beliau menyampaikan "Pepatah" leluhurnya sebagai berikut :
"Bahwa satu saat pintu Mekah terbuka lebar… dari situ jalan kearifan membelah lautan hingga tembus ke pulau tutung. Lalu banyak manusia menyusuri kearifan, tapi mereka tidak tahu (hakikat) yang disebut kearifan" (dikutif dari Kisah Walangsunsang karangan WD Darmawan)
Makna dan hakikat "arif" dan kearifan tidaklah sebatas mengetahui sesuatu... tetapi lebih jauh lagi dari sekedar tahu karena merupakan suatu kondisi dan sikap mental dimana pendengaran-penglihatan-fuad seorang manusia telah benar-benar "memindai" sesuatu hal secara holistik dan utuh... tidak sebatas Ilman Yakin hasil pemindaian oleh pendengarannya semata ... tetapi telah pula Ainul Yakin melalui proses pemindaian oleh penglihatannya .... yang kemudian menghantarkannya kepada Haqqul Yakin yang dihunjamkan kedalam fuad-nya... Dengan demikian Kearifan dapat di ejawantahkan pula sebagai pendekatan holistik dalam memandang segala sesuatu secara utuh melalui pendengaran-penglihatan-fuad yang dikenal dengan faham "Holisme"
Nasehat yang disampaikan kembali oleh Prabu Nalendra Sri Baduga Maharaja di atas adalah sebentuk Holisme Sunda yang pada Jilid I ditegaskan bahwa Prinsif Holisme Sunda bertumpu kepada "Nature Holism"... yang dengan prinsif itu membedakannya dengan prinsif Holisme Jawa yang bertumpu kepada Artificial Holism...
Tidaklah berlebihan jika para leluhur Prabu Nalendra "jauh-jauh hari" telah mensinyalir adanya fenomena para penempuh kearifan dari mekah (Muslim?) yang "tidak tahu" apa itu kearifan.... dan fenomena tersebut dapat tersurat seperti uraian berikut ini...
Catatan sejarah menyatakan bahwa bibit-bibit ajaran Islam mulai ditebarkan di Tanah Jawa oleh Walisongo ... proses itu tercatat dalam sejarah dimulai pada tahun 808 Hijrah atau 1404 Masehi…
Tetapi sebelum Walisongo berkiprah di tanah Jawi pada sekitar tahun (1340 – 1357) berkuasalah Prabu Maharaja Lingga Buana di Kerajaan Galuh yang mempunyai adik bernama Mangkubumi Suradipati atau dikenal pula dengan pangilan lainnya Prabu Bunisora yang berusaha menempuh perjalanan spiritual ke Mekah untuk memperoleh Ilmu Sajati yaitu Ajaran Islam yang langsung terpancar dari mata-air sucinya. Prabu Bunisora berputrakan Bratalegawa yang lahir pada tahun 1350 M… kelak Bratalegawa dikenal sebagai Haji Purwa karena dikenal luas sebagai sosok yang pertama kali menunaikan ibadah haji dalam silsilah raja-raja Sunda. Informasi mengenai fenomena Haji Purwa itu sendiri telah diutarakan oleh J. Hageman (1867) dan terungkapkan pula se-abad kemudian dalam Naskah Pangeran Wangsakerta.
Dari catatan sejarah di atas nampak jelas adanya dua arah yang berbeda dari Sikap pandangan hidup Ki Sunda dengan Wong Jowo dalam menerima tebaran bibit-bibit keislaman…
Dengan berfaham “nature’s holism” Ki Sunda nampak selalu berusaha memandang dan memperoleh bibit-bibit Keislaman dalam bentuk original yang se-otentik mungkin dari mata-air sucinya… dengan prinsif itu pula Ki Sunda tidaklah mungkin hanya mau “ilman yakin” semata dengan cara menerima khabar-berita tentang ajaran Keislaman dari mulut para penebar bibit keislaman dari daerah maghribi atau dari para pedagang muslim yang menjalin Tijarohan dengan Ki Sunda… dia kemudian selalu berusaha pula untuk memperoleh “Ainul Yakin” melalui penglihatannya dengan cara menyusuri jejak penyebaran Bibit ajaran Keislaman ke Mekkah Al-Mukarromah… hingga akhirnya terhunjamkan ke dalam fuad-nya sebentuk “Haqqul yakin” tentang originalitas dan ke-otentikan ajaran Islam sebagai hasil dari daya upaya para Hunafa Sunda demi memperoleh “Ilmu sajati” tentang segala hal….
Pendek kata…..Tak ada tempat bagi relung Qalbu Ki Sunda untuk langsung menerima informasi “mentahan” yang bersifat “kedengarannya” saja… atau “kelihatannya” saja… dan “rasa-rasanya” saja… semuanya harus utuh dipindai oleh pendengaran-penglihatan-fuad(rasa) yang Dianugrahkan Oleh Alloh SWT kepadanya….
Maka bedakanlah dengan kondisi dan sikap mental elitis Jawa yang demikian rela memperoleh “bujukan” dengan segala cara untuk menyemaikan bibit Keislaman…
Tidaklah mengherankan jika proses penebaran bibit ajaran Islam “katanya” disebarkan walisongo salah satunya melalui pertunjukkan wayang kulit sebagai media pembujukan… seraya Qolbu orang jawa tak diberi kesempatan untuk dapat menyelisik apakah yang disampaikan oleh walisongo itu benar-benar ajaran Islam yang original dan otentik?... ataukah sekedar dongeng-dongengan hasil rekaan budi-akal manusia penghias cerita lakon pewayangan yang berasal dari ajaran Hinduisme?...
Upaya Pembujukan semacam itu tidaklah mengherankan jika kita merunut faham orang jawa yang bertumpu kepada Reduksionisme atau “Artificial holism” … hingga pendengaran-penglihatan-fuad orang jawa lebih cenderung terpaku oleh ciptaan-ciptaan manusia yang tidak alami (artificial)… Yang berbeda 180 derajat dengan pandangan “nature’s holism” dalam diri Ki Sunda yang segalanya harus alami murni bersumber dari “semesta alam” ciptaan Alloh SWT…
Pendek kata …nalar orang jawa lebih cenderung menerima dan menghargai hal-hal yang bersifat artificial ciptaan manusia… Hingga Ajaran Islam yang bersumber dari Qolamullah harus terlebih dahulu “dikunyah” lebih lembut “Direduksi” terlebih dahulu oleh upaya artificial manusia sebelum dapat dia cerna dengan mentah-mentah… Tinggallah segalanya bergantung kepada “subyektifitas” manusia-manusia yang bersedia Mereduksi “mengunyah” terlebih dahulu bibit ajaran Islam…. Apakah dengan subyektifitasnya itu akan “Menjamin” dapat menghantarkan jiwa dari orang-orang yang menelan hasil kunyahannya tersebut ke arah originalitas ajaran Islam?... dan otentitas ajaran islam? … dimana segala originalitas dan otentitas haruslah dibangun di atas fondasi “objektifitas”… bersambung ke jilid selanjutnya…

Dikirim pada 04 Oktober 2012 di Pox Kabayan Pox Deui


Menyelisik Langkah-langkah Syetan Jilid IV

Dikirim pada 18 November 2011 di Khittah Reduksionist


Ketika harimau menjadi raja hutan....Tetapi mengaum di Kebun Binatang....
Ketika Ki Sunda menempuh "Millah" Kehanifannya....Tetapi terkerangkeng oleh jeruji Penjajahan dan Millah wong Jowo

"Millah" kadang sulit di definisikan secara tepat dalam bahsa Indonesia, maklumlah...karena kosa kata tersebut adalah unsur serapan dari bahasa Arab.... kadang orang artikan Millah dengan makna agama... seringpula Millah di artikan dengan gaya hidup... Namun yang penting adalah konteks Millah tersebut jelas-jelas bisa kita rasakan ketika ada upaya suatu kaum lainnya yang berusaha memaksakan millahnya menjadi "millah" kaum lainnya.... dimana upaya pemaksaan millah itu berlangsung melalui berbagai bentuk praktek "penjajahan"... baik penjajah fisik, mental atau ekonomis dan idiologis
Kaum apapun pastilah punya millah sendiri-sendiri... dan millah suatu kaum, dapat di ibaratkan dengan watak atau sifat dalam level pribadi atau personal ....
Urang Sunda telah punya Millahnya tersendiri... dan demikian pula dengan wong jowo dengan millahnya pula..... sehingga mudahlah dengan millahnya itu untuk membedakannya urang sunda dengan wong jowo walau keduanya hidup dalam satu pulau yang sama.... pada kondisi tertentu perbedaan Millah itu "mungkin" dapat ditunjukkan dengan perbedaan Bahasa dan dialektika.... Namun tidak serta merta faktor bahasa itu dapat menjadi representasi suatu millah.... contohnya orang sunda bisa saja fasih berbahasa jawa atau sebaliknya... namun tidak serta merta dengan kefasihan bahasa jawanya itu menjadikannya "seorang" jawa...
Adalah suatu kesalahan besar jika kita "hanya" membedakan antara Sunda dan jawa dengan faktor pembedaan bahasanya semata....
Urang Sunda juga telah mempunyai "teritory" tatar wilayahnya sendiri... dan demikian pula dengan wong jowo... hingga suatu kesalahan besar jikalau kita membedakan sunda dengan jawa hanya dari teritori wilayahnya saja... sebab urang sunda dapat saja tinggal di teritorial wong jowo dan demikian pula sebaliknya....
Hingga satu faktor yang sangat bisa diandalkan membedakan antara "urang Sunda" dengan "wong Jowo" adalah dengan menilik millahnya masing-masing....
Sunda - Jawa berada dalam satu pulau yang sama, namun keduanya dapat secara jelas dibedakan oleh faktor pembedaaan Millahnya sendiri-sendiri.
Secara filologis.... Millah Sunda adalah dibangun dengan faham "holisme".... tepatnya holisme alamiah (Nature"s holism).... sedangkan Millah jawa dibangun dengan faham "reduksionisme" atau dapat pula dikategorikan sebagai holisme buatan-non alamiah (Artificial holism)....
Dalam faham holisme .......kuda barulah dapat disebut kuda melalui cara pandang yang utuh terhadap segala hal-ihwal tentang kuda....dia harus menjelma dalam ujud kuda yang tentu saja bisa meringkik, beranak-pinak melahirkan anak kuda lagi dan memakan rumput atau pakan lainnya yang dapat dimakan oleh seekor kuda "yang benar-benar kuda"
Berbeda halnya dengan faham reduksionisme.... dimana fenomena "seekor kuda" tak perlu dipandang secara utuh karena hanyalah suatu bahan inspirasi semata untuk kemudian direduksi menjadi sebentuk "patung kuda"....kuda kepang... kuda-kudaan...dan lain sebagainya yang dapat diciptakan oleh akal-budi manusia.... yang kesemuanya itu kadong diujudkan dalam Millah wong jowo berkat faham artificial holism yang memberikan ruang kepada ego dan subyektifitas setiap manusia untuk leluasa mengkreasikan kuda dalam beragam bentuk ciptaannya..... dalam arti luas melalui faham reduksionisme inilah wong jowo diberi keleluasaan mereduksi segala hal (merubah komponen sistem alami menjadi sesuatu unsur buatan hasil akal-budi manusia).
Tidaklah mengherankan jika dari setiap kerajaan urang sunda... sejak kerajaan Galuh hingga Padjadjaran tidaklah mementingkan unsur-unsur ciptaan manusia yang Monumental.... tak ada peninggalan Istana dan sangat jarang ditemukannya artefak-artefak yang dapat menjadi "barang" peninggalan dan penguat eksistensi kerajaan-kerajaan Sunda tersebut...
Hingga akan berbedalah dengan sangat nyata ketika kita membandingkan antara eksistensi kerajaan urang sunda (yang tidak mementingkan unsur-unsur buatan hasil akal budi manusia) dengan eksistensi kerajaan-kerajan wong jowo (yang selalu saja "meninggalkan" peninggalan-peninggalan monumental semisal patung-patung dewa,candi-candi atau istana sebagai artefak wong jowo yang masih menjelma hingga kini).... Dimana semua peninggalan artefak kerajaan-kerajaan jawa itu tiada lain dipicu oleh faham reduksionisme .... sebagai Millah yang mendorong wong jowo mereduksi Tuhannya menjadi sesosok patung-patung dewa-dewa.....hingga mereduksi pula suatu sarana peribadatan menjadi "tempat ibadah" dalam bentuk candi-candi,..... juga mereduksi aspek-aspek tempat tinggal menjadi sebuah "istana" yang megah.
Lalu apalah urgensinya dan keunggulan "holisme" Sunda tersebut???.... yang tidak mengedepankan unsur subjektif dan ego-sentrisme dalam mengedepankan warna akal-budi urang sunda??...
Tiada lain urgensi holisme tersebut adalah dalam rangka menumbuhkan sifat-sifat "hanifiah"... yaitu sejumput sifat-sifat manusia yang haus mencari arah kebenaran setelah dia terbelokan oleh suatu kesalahan ego manusia.... sejumput sifat-sifat kehanifan yang terus berusaha menempuh jalan lurus setelah sebelumnya pernah terbelok-kan oleh subjektifitas dan ego setiap manusia....
Kehanifan Ki sunda tak mungkin terbatasi oleh suatu tampilan kuda-kudaan atau kuda kepang dalam rangka mengenal "kuda" yang benar-benar kuda... dia tak akan puas dengan hanya "tahu" kuda dari kuda-kudaan dan kuda kepang semata... dia selalu ingin tau "ujud" alamiah dari kuda... cara alamiah kuda berkembang-biak... hingga sangat haus pula untuk mencari "pengetahuan" tentang siapakah pencipta kuda-kuda yang dapat meringkik dan beranak pinak itu??.... dan seterusnya hingga seterusnya tanpa batasan aspek-aspek materiil yang dapat dipuaskan oleh barang-barang artificial buatan akal budi manusia.
Tak mungkinlah kemudian bagi sa-Urang Sunda sejati .... untuk terpuaskan "mengetahui" Tuhan dari patung-patung dewa semata.... dia akan terus berkelana ke segenaf ufuk untuk menelusuri "eksistensi" Tuhan yang harus dia sembah.... Sementara dalam millah jawa Eksistensi Tuhan itu kadong direduksi menjadi patung-patung dewa semata....
Seterusnya... dan seterusnya.... hingga dengan sifat-sifat kehanifan sunda yang didorong oleh faham Holisme alamiah itu ... sedikit-banyaknya "sebangun" dengan kehanifan Ibrahim bapak Para Nabi.... yang rela bersusah payah untuk mencari dan terus mencari ... untuk mengetahui sesuatu "eksistensi" Tuhan pencipta seluruh alam termasuk manusia itu sendiri.... dan tak pernah terpatok oleh ujud patung-patung Dewa yang dianggap sebagai Tuhan dan disembah oleh orang Tua Ibrahim a.s.....
Maka bandingkanlah pula perbedaan cara pandang Leluhur Sunda dan leluhur jawa terhadap "Dinul Islam".... yang akan kita kupas pada jilid selanjutnya.... bersambung

Dikirim pada 16 November 2011 di Pox Kabayan Pox Deui

"Halodo sataun lantis ku hujan sapoe"
Kering kerontang akibat kemarau satu tahun... hilang tak berbekas oleh guyuran hujan sehari... itulah kira-kira makna Ayat-ayat Kawniyyah yang sering digaungkan oleh para leluhur Sunda...
Bertahun-tahun upaya Aa Gym membersihkan hati... hilang tak berbekas di mata-hati Ummat oleh "satu" guratan nasib yang beliau alami.....
Sejak tahun 90-an... beliau mulai mengeliat...
Dan terhenyaklah sejak saat itu... mata lahir-bathin ummat....
akibat Qolbun Salim kah?... hati bersihkah?... atau oleh metode Manajemen Qolbu?...
Berduyun-duyun orang-orang mengikuti dan mencermati segala tingkahnya...
Ummat seakan "hakim".... ketika sesuai dengan keinginan kebanyakan Ummat... maka goyang 3G (gual-geol-gitek) pun bolehlah dihalalkan sedikit...
ketika sesuai dengan keinginan ummat kebanyakan... maka cicak-pun bisa demikian perkasa dibanding buaya ...
dan lain hal sebagainya.... ternyata memang benarlah suatu Qolamullah....
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum tersebut belum merubah nasib mereka masing-masing”. (Ar-Ra’ad:11)
Maka apalah daya dobraknya "kesholehan" seorang Muslim?... jika Ketetapan perubahan itu telah ditetapkan-Nya hanyalah dapat terwujud oleh "sekapasitas" Ummat Muslimin?....
Maka tak pelak lagi sekaliber Ahli bersih hati pun "ternyata" harus efektif sebagai satu agen mengotori ribuan hati Ummat yang telah dijadikan sarana Oleh-Nya untuk merubahan keadaan suatu Kaum itu sendiri...
Tak ada lagi "Kebersihan" hati ummat untuk menilai "nila setitik" yang dianggap telah merusak susu sebelanga...
Tak ada lagi "Kebersihan" hati ummat untuk menghindari kutukan pepatah "Halodo sataun lantis ku hujan sapoe"
Karena memang perubahan nasib atau apapun juga yang terkait Ummat... haruslah Ummat itu sendiri yang berkehendak... Bukanlah orang-per-orang... kecuali sekelas Nabiyullah Rasululloh SAW...
Apalah lacut.... Aa Gym hanyalah seorang manusia yang bukan sekaliber Rasululloh... dia bukanlah representasi sekumpulan UMMAT...
Hingga amal sholehnya untuk "membersihkan hati" bukanlah dasar bagi perubahan "hati" ummat pada saat ini... yang dapat dijadikan acuan ke arah kebersihan hati dari Ummat Muslimin....
Yang harus kita tetap yakini..... tak adalah maksud buruk nan tercela dari Qolamullah Surat Ar-Ra’ad:11...
Yang ada hanyalah peluang besar dari orang-per-orang untuk bersatu padu merubah diri...
satu orang merubah diri... datanglah pula satu lagi orang merubah diri... satu lagi.... satu orang lain... satu orang lagi... hingga demikian seterusnya... dari satu-per-satu orang yang bersedia membersihkan "hati" ... lambat laun sekumpulan UMMAT akan "diridloi-NYA" menjadi UMMAT yang berubah nasibnya berkat upaya bersama-sama membersihkan hatinya ....
Yang jelas UMMAT yang bersih hati itu bukanlah saat ini tampil kemuka.... karena mungkin saja baru sekitar 13,568123 % saja yang tetap Istiqomah membersihkan hati....
Tapi sekitar 86 persenan UMMAT... saat ini sedang berjaya menentukan nasibnya....
Maka apalah aral-lintangnya jika pada saat ini yang 86 persenan itu mudah mengotori hatinya oleh sebuah noktah titik nasib "seorang" Aa Gym?...
Lawong Rahmat Illahi tetaplah terbentang....
kelak dikemudian hari bisa jadi 23% ummat... 37% Ummat... selanjutnya 62 % Ummat... 79% ummat... hingga akhirnya 99,9987098 % ummat "berhasil" membersihkan hatinya.... walaupun pada saat itu telah terdapat "selebritis" kondang yang berupaya sekuat tenaga mencoba mengotori 99,9987098 % hati ummat... maka Alloh Azza wa Jalla tetaplah meridloi ummat tersebut untuk "selalu" membersihkan hatinya...
Maka setelah Aa Gym siapa lagi yang akan "turut" serta membersihkan hatinya?...
Dan dia tidak akan "ikut-ikutan" terlarut arus utama ummat pada saat ini... yang begitu mudah "terkotori" hatinya oleh nasib "seorang" selebritis belaka....
Maka setelah Aa Gym... who"s next?.... yang pernah tak mau peduli sedikit-pun oleh perubahan cybermq berubah menjadi abatasa... hanya gara-gara satu guratan nasib dari seorang selebritis....

Dikirim pada 03 Mei 2011 di Ironi & Paradoksal


Adalah seorang muslimah ... bernama Eni Solehah, S.Psi....Dari gelar yang disandangnya tentu saja kita semua mulai bisa menerka bahwa ia adalah seorang psikolog....

Memang benar.... sebelum dia menikah dengan Bapak Husni Adilah... dia pernah bekerja sebagai Psikolog handal ... suatu profesi yang sangat membantu bagi upaya membenahi atau menyembuhkan kesakitan dan kegundahan jiwa bagi banyak orang....

Dahulu ... praktek mengatasi kegundahan jiwa dari klien-kliennya adalah keahlian utamanya.... Namun kini, setelah anak laki-laki semata wayangnya masuk TK ... justru kegundahan jiwanya sendiri pun begitu mengelayut tak bisa diatasi sendiri walau berbekal berbagai metoda dan disiplin ilmu kejiwaan yang dimilikinya.

Sejak 2 hari lalu rasa gundah, bimbang dan kesumpekan jiwa begitu pekat mengelayuti hati dan pikirannya... Tiada lain sumber kegundahan itu dipicu oleh salah satu opsi yang ditawarkan kepadanya oleh Bapak Husni Adilah... agar keinginan anak laki-laki kesayangannya bisa cepat-cepat terpenuhi, yaitu mempunyai adik... maklum saja taraf kesejahteraan Keluarga Husni Adillah diatas rata-rata kebanyakan orang, sehingga berbagai keinginan material dari anak tunggal satu-satunya itu selalu saja bisa terpenuhi.... Namun untuk urusan memperoleh adik bagi anak laki-laki kesayangannya itu .... adalah suatu hal yang mustahil terwujud... pasca rahim Ny. Eni Solihah dikuret hingga tak memungkinkan baginya untuk bisa hamil lagi.

Awalnya rumah mewah yang sudah ditinggalinya sejak kelahiran anak pertamanya itu seibarat Baiti Jannati... kini berubah 180 derajat seibarat Baiti naari .... Pasalnya Bapak Husni Adilah menawarkan opsi menikahi lagi dengan wanita lain agar keinginan putra tersayangnya dapat cepat-cepat terkabul walau adiknya itu nanti tidaklah berasal dari rahim yang sama dengan rahim yang mengandungnya dulu.... Tak tanggung-tanggung wanita lain calon madunya itu, tiada lain adalah mantan baby sitter yang kini menjabat pula sebagai pembantu rumah tangganya... seorang janda miskin seusia Ny. Eni yang dari dulu hinggi kini begitu telaten merawat anak tunggal kesayangannya yang diberi nama "Barack" Adillah (Nama aslinya sih ...Mubbarak Adilah.... namun ketika setahun setelah dia lahir bertepatan dengan hangat-hangatnya momen euforia pengangkatan Barack Obama menjadi Presiden AS)... dan Tawaran suaminya itu harus segera dia putuskan jawaban pastinya... apakah akan rela hati dan setuju suaminya kawin lagi??... ataukah menolak mentah-mentah opsi poligami tersebut?

Dipagi itu, Ny Eni mencoba taktik baru dalam rangka mengatasi gundah hatinya.... dia berangkat mengantar Barack Adillah ke Taman Kanak-kanak bonafit di kotanya... lebih pagi dari jadwal biasanya.... tentu harapannya adalah agar dirinya dapat cepat-cepat keluar dari suasana tak keruan di rumahnya yang kini begitu terasa panas menyengat hati seibarat tinggal di neraka...

Tiba di halaman bermain TK tempat anaknya dididik.... tentu saja dalam keadaan masih sepi karena teman-teman Barack belum pada datang..... dan seperti biasa Barack Adillah cepat-cepat menghampiri arena bermain kesukaannya yaitu papan cungkelik-cungkedang (jungkit-jungkitan)... dengan semangat 45 dia langsung menunggangi papan jungkitan sisi sebelah kanan... namun wajahnya langsung terdiam hening sambil cemberut.... pasalnya papan jungkitannya tak mau bergerak naik-turun seperti yang sering ia nikmati... kontan Barack Adilah menangis keras-keras akibat kesal bercampur marah karena keinginannya untuk menikmati sensasi naik-turunnya jungkitan tidak terpenuhi... dan tangisan kesal anaknya itu semakin menambah kegundahan hati Ny Eni... Bukannya segera bergegas meredakan tangisan putra tersayangnya dirinya malah semakin tak berdaya menahan rasa gundah hingga berlinang air mata mencucuri pipinya.

Sesaat berselang datanglah Mrs Ayuki Tawazuni beserta anaknya Hidetoshi Tawazuni.... dia terheran-heran melihat moment tangis-menangis diantara ibu dan anak.... dan segeralah dia menghampiri Ny Eni seraya bertanya apakah gerangan yang terjadi?.... Dan setelah Ny Eni mengutarakan kegundahan anaknya yang tidak bisa menikmati sensasi naik-turun cungkelik-cungkedang ... maka ia cepet-cepet menyuruh Hidetoshi untuk naik ke sisi kiri papan jungkitan..... Dan sejenak kemudian berhinggarlah tawa riang Barack Adillah dan Hidetoshi Tawazuni....
Apakah tak terpikirkah oleh mu Mrs Eni?.... tukas Mrs. Ayumi Tawazuni… turun naik jungkitan hanyalah terjadi berkat adanya “lawan penyeimbang” yang memicu terus berlangsungnya moment "Kesetimbangan Dinamis" yang continue?... tukasnya lagi. … Janganlah heran jika hati kita gundah karena kita tak mau “menghadirkan” pihak lain sebagai lawan penyeimbang tuk meraih kesetimbangan hidup yang dinamis …demikian ucapan-ucapan filosofis Mrs. Tawazuni… maklumlah dia adalah seorang Filosof non muslim yang sedang “kuliah” mengkaji ilmu-ilmu keislaman di sebuah Perguruan Tinggi Islam Negeri
Ucapan filosofis Mrs Tawazuni itu… tidaklah diambil hati…. Karena perasaan Ny. Eni saat itu seakan terhanyut oleh keriangan dan sensasi naik turun jungkitan yang melanda hati anaknya... dan secara otomatis hilang musnahlah kegundahan yang sesaat lalu begitu mengelayuti bathinnya hingga tibalah bel masuk kelas berbunyi yang memaksa Barak Adillah dan Hidetoshi Tawazuni segera bergegas masuk kelas.

Sambil menunggu anaknya selesai belajar di kelas O besar... perlahan-lahan kegundahannya yang sesaat lalu hilang ...kini menyeruak kembali memenuhi relung-relung jiwanya... dan tanpa disadari... di tengah permenungannya... melelehlah kembali cucuran air mata membasahi pipinya.... Hal itu kembali mengundang iba Mrs Tawazuni... Dia kemudian bertanya kembali apalah lagi gerangan kesedihan hati yang melanda Ny. Eni.... saking tak bisa menahan rasa gundah Ny Eni tidak mampu tuk menjawab dan membalas sapaan Mrs. Tawazuni.

Mrs. Tawazuni tidak patah akal menghadapi kebisuan Ny Eni.... dituntunlah tangan Ny Eni sambil menuju ke papan jungkitan... seraya berseloroh.... Aaahaaa....I know What You Want... Mrs Eni perlu lawan penyeimbang-kah?...tuk main jumpitan?? tukas Mrs. Tawazuni dalam logat Jepang yang kental.... Seibarat kerbau dicocok hidungnya.... Ny. Eni menurut saja ketika didudukan di sisi kanan papan jumpitan... dan setelah Mrs. Tawazuni menduduki sisi lainnya ....tersadarlah Ny. Eni akan sensasi naik-turun jumpitan yang begitu disukai anaknya.... Seakan kedua ibu berumur 30-an itu tak sadar atas prilaku kekanak-kanakan ketika menikmati cungkelik-cungkedang.... keduanya cuek saja ketika ibu-ibu yang lainnya meneriaki tingkah mereka berdua dengan cemoohan... masa kecil kurang bahagia... Dan yang paling penting adalah sensasi turun-naik Jungkitan itu benar-benar berhasil membuyarkan kegundahan di hati Ny Eni.... dirinya begitu asyik terhanyut naik-turun cungkelik-cungkedang sambil diselingi ngobrol ngalor-ngidul tentang isu apa saja dengan Mrs. Tawazuni.... hingga waktu menunjukkan bubaran anak TK....

Tiba kembali dirumahnya adalah saat yang terasa sangat menyiksa... Selepas menganti baju anaknya dia bergegas menuju papan jumpitan di halaman samping taman rumahnya... Ingin rasanya dia mengulang kembali "sensasi" masa kecil kurang bahagia yang dinikmatinya di papan jungkitan bersama dengan Mrs. Tawazuni agar kegundahan hatinya dapat kembali berlalu.... juga tergiang kembali ucapan-ucapan filosofis dari Mrs. Tawazuni …Tak disadari permenungan diri di sisi kanan papan jumpitan itu .....membuatnya lengah…tak menyadari ketika sang pembantunya bernama Nurul Sakinah -calon madunya itu- datang menghampirinya seraya bertanya apa gerangan penyebab muram durja di wajah majikannya itu.... Ny. Eni bukannya menjawab malahan mukanya berwajah ketus dan diam membisu tak menjawab pertanyaan pembantunya.... Anehnya sang pembantu tidak menghiraukan tanggapan ketus dari majikannya itu.... dia malah duduk di sisi kiri papan jumpalitan yang sontak menjungkatkan sisi kanan yang diduduki Ny. Eni... wajah ketusnya sontak berubah menjadi keterkejutan.... belum habis rasa terkejut itu hilang ….dirinya sudah harus berupaya menyeimbangkan diri agar posisi jumpitannya segera turun.... dan setelah posisi turun tentu saja segera naik lagi dan begitu seterusnya hingga sensasi cungkelik-cungkedang yang tadi pagi dinikmatinya bersama Mrs. Tawazuni kembali menghiasi hatinya... keriangan spontan kemudian muncul.... menghapus wajah ketus dan muram durja.... sambil tersipu malu dirinya kemudian menyapa sang calon madunya sambil terus menikmati momen dan sensasi naik-turunnya papan jumpitan.... dan tak terasa obrolan-obrolan hangat-pun bersambutan diantara kedua.... mulai dari membahas menu makan malam yang akan dimasak sang pembantu yang tiada lain calon madunya itu... hingga curhat sang pembantu yang selalu digoda oleh tukang-tukang ojeg ketika mengantarnya belanja ke pasar....

Hingga tiba-tiba saja kehangatan obrolan diantara keduanya buyar... akibat Barack Adilah mencak-mencak tak rela sarana bermain kesukaannya dipakai oleh ibu dan calon ibu tirinya.... Kemudian Ny Eni berusaha meredakan protes keras anak kesayangannya itu dengan mengajak Barack Adillah main jumpitan.... Selama menemani anaknya main jumpitan ... hatinya kembali terenyuh oleh keinginan anaknya untuk punya adik dan hal itu menghujamkan kembali belati kegundahan ke dalam hatinya... Namun kini dalam benaknya berlangsung pula daya analisa tentang berbagai aspek "keadilan" yang tiba-tiba tersirat dari main cungkelik-cungkedang ... baik yang pernah dirasakannya dengan Mrs. Tawazuni maupun dengan Sang Pembantu yang dirasakannya sangat efektifitas untuk pembuyaran kegundahan dalam hatinya.... tercetuslah inspirasi tentang "Keadilan Cinta" yang tersiratkan dalam permainan cungkelik-cungkedang juga diperkuat dari ucapan filosofis Mrs. Tawazuni....
Selepas memenuhi kepuasan anaknya main cungkelik-cungkedang.... dirinya akhirnya tersadarkan akan suatu pelajaran Hikmah dan falsafah dari Cungkelik-cungkedang yang telah dirasakannya begitu efektif membuyarkan segala kegundahan dalam hatinya.... Ny Eni tiba-tiba beristighfar... seraya mengumankan tasbih, tahmid dan takbir... dirinya segera menghampiri Nurul Sakinah ...dan memeluk erat sang pembantu itu seraya berucap kata-kata maaf atas sikap ketus yang selalu tersaji kepada pembantunya itu menjelang tempo 3 hari terakhir.... Dan tanpa diduga sebelumnya... pada malam harinya dia utarakan jawaban penting yang ditunggu suaminya... bahwa dirinya rela untuk di-poligami.... MasyaAlloh.

Pembaca pasti bertanya-tanya apakah gerangan sebab-musabab yang mendorong Ny Eni memilih keputusan bulat dan jawaban siap untuk di-Poligami yang diutarakan kepada suami..... semuanya itu dapatlah terjawab jika menyimak epilog tulisan ini....

Maka berlangsunglah pernikahan suci untuk kedua kalinya dalam sisa kehidupan Bapak Husni Adilah... seorang bapak yang kini beristri dua... dan pernikahannya itu tidaklah mengoyahkan kedudukannya sebagai seorang Anggota legislatif dari "Partai Keadilan" (Bukan PKS-red)... karena semuanya berlaku atas dasar izin dan kerelaan Istri pertamanya Ny. Eni Solihah.

Setahun kemudian lahirlah anak perempuan dari rahim Nurul Sakinah .....adik bagi Barack Adilah.... Maka lengkaplah kebahagian Keluarga Bapak Husni Adilah berkat kesolehan "hati" Istri pertamanya.... yang dirinya dikarunia hidayah tentang "keadilan Cinta" yang dijamin akan menyeruak jika berlangsungnya praktek Poligami yang ternyata semuanya itu "tersemburat" gara-gara momen-momen "Ketawazunan" ... Momen kesetimbangan hidup pemicu berbuahnya jaminan "Keadilan Cinta" karena hadirnya pihak lain sebagai penyeimbang dalam sebentuk Poligami ...dimana hikmah pentingnya “lawan penyeimbang” itu merupakan inspirasi yang dihadirkan dalam permainan jumpitan Ny. Eni bersama Mrs. Ayumi Tawazuni dan ucapan filosofisnya....

Dua Tahun Sudah.... Praktek poligami berkeadilan oleh Bapak Adilah berlangsung.... dihiasi keberkahan rumah tangga sakinah.... yang awalnya bergolak keras namun akhirnya mereda menyeruakkan Keadilan Cinta hakiki...

Berkah dari kerelaan Ny Eni tuk di-poligami ... maka dirinya kemudian mendirikan lembaga Konsultasi Keluarga Sakinah.... yang diberi nama "Tawazuni Center".... Nama tersebut dipilih tentu saja sebagai rasa hormatnya kepada Mrs. Ayumi Tawazuni hingga diraihnya Hikmah Ketawazunan (keseimbangan hidup).
Beliau berpraktek kembali sebagai Psikolog yang membantu mengatasi masalah yang dihadapi oleh Istri-istri yang akan dipoligami atau yang sedang dipoligami....
Dimana "jurus jitu" yang selalu disodorkan kepada sekian kliennya adalah semboyan.... "Raihlah keadilan cinta yang hanya akan muncul dalam momen-momen pernikahan poligami"...
Mengapakah semboyan itu muncul demikian?...

Menurutnya.... dalam pernikahan monogami tidak akan pernah ada suatu tuntutan dari seorang istri untuk memperoleh "Keadilan Cinta" dari sang suami.... lawong sepenuh cinta suaminya pastilah terhidang bagi istrinya seorang.... Itupun hanya bisa “terjamin” jika sang suaminya itu tidak berselingkuh atau nikah siri dengan wanita idaman lainnya (WIL).
Makna keadilan cinta bagi Ny. Eni adalah "hanya" tercetus jika sang suami memperoleh kewajiban membagi cinta sama rata kepada dua istrinya... hingga kepada empat istrinya jika dia mampu... yang semuanya hanya mungkin tercipta dalam momen-momen praktek poligami…. Disanalah terciptanya suatu tuntutan yang mutlak harus diperoleh oleh dua orang hingga empat orang istri dari alokasi 100% cinta sang suami.... yang kemudian harus dibagi dua menjadi masing-masing 50% jika beristri dua... atau masing 25% jika beristri empat.

Dari pengalamannya di-poligami dan berkat falsafah "Ketawazunan" yang diperoleh dari ucapan dan momen main jungkitan dengan Mrs. Ayumi Tawazuni.... Menurut pandangan Ny. Eni kadang kala keadilan cinta dari sang suami itu tidaklah selamanya “Kesetimbangan statis”.... Namun selalu dinamis .... seibarat naik-turunnya mainan cungkelik-cungkedang .... seringkali cinta suami bergeser condong ke istri kedua ....... tapi janganlah terlalu khawatir... karena dengan adanya “Kesetimbangan Dinamis” ..maka hal itu tak mungkin berlangsung lama karena akan segera tiba saatnya bergeser kembali ke Istri pertama.... jikalau Praktek poligami “Berkeadilan” itu tetaplah dipertahankan... Seibarat terus dipertahankannya "Ritme" naik-turunnya papan jumpitan yang "bergantian" turun-naik ke posisi sebelah kanan maupun ke sebelah kiri secara bergantian yang menciptakan Kesetimbangan Dinamis.... dan seibarat Sensasi naik-turunnya papan jungkitan... maka sensasi dari “Pergeseran Cinta" itu adalah wajar terjadi yang menjelmakan kesetimbangan dinamis dalam poligami, ... sedangkan Keadilan statis adalah sangat naif sebagaimana hal itu disinyalir dalam Surat An-Nisa‘ ayat 129: “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian…”.....
Pendek kata "kesetimbangan Dinamis" itulah yang akan menjadi sensasi tersendiri dalam berpoligami selama sang Suami tetap berkomitmen dan dituntut untuk tetap berlaku "adil" dalam membagi cinta kepada istri-istrinya..... sebagaimana berlangsungnya sensasi Cungkelik-cungkedang yang dinamis seperti pernah dinikmatinya bersama Mrs. Tawazuni atau dengan Nurul Sakinah... yang di kemudian hari menjadi madunya dan ibu dari adik anak kesayangannya.......
Sejak memperoleh Inspirasi "Keadilan Cinta" dan kesetimbangan dinamis dari permainan jungkitan tersebut..... Ny. Eni selalu berdzikir atas keadilan yang selalu Dilimpahkan Alloh SWT kepada ummat manusia.... atas ditetapkannya Perintah Sunah Poligami pada beberapa ayat Surat An-Nisa....yang jika dikaji asbabun Nuzulnya pada ayat-ayat tersebut... maka yakinlah dirinya bahwasannya perintah poligami tersebut adalah benar-benar disyariatkan untuk mencegah pelecehan terhadap derajat wanita-wanita malang maupun wanita-wanita sholihat yang selalu “dijamin” terlimpah kepadanya sebentuk "Keadilan Cinta" yang tak mungkin tercetus dalam suatu momen pernikahan monogami
Sekian..... semoga dapat diresapi hikmahnya.......wasalam.

Dikirim pada 17 Maret 2011 di Ekspedition

Banyak orang .... baik muslim atau bukan....sangat rindu memperoleh keadilan.... bahkan sekelas koruptor seperti Gayus pun ternyata harus diperlakukan dengan adil..... Walaupun gayus terbukti "salah" menggelapkan Pajak dan kemudian dihukum penjara... Namun tetap saja dirinya harus terlebih dahulu diadili (oleh sesama manusia tentunya)....
Titik kunci bagi kita semua adalah keadilan macam apa yang harus kita tujui??....
Keadilan duniawi-kah??.... seperti yang tengah dirasakan oleh Gayus.... yaitu sebentuk keadilan yang sering ditujui pula oleh kaum "melek huruf" dijaman modern ini??...
Padahal jika kita kembali kepada Al-Quran dan As-Sunah.... ternyata sebentuk keadilan itu telah jelas aral-lintangnya... telah jaleh pula indikator-indikatornya..... yang dapat selalu kita tempuhi dengan cara meneladani Jalan Keadilan yang ditempuhi Rasululloh...
Rasululloh SAW adalah sesosok insan mulia yang tak mungkin lagi digugat taraf keadilannya.... Hingga tidaklah mengherankan jika beliau pantas sekali untuk berpoligami.... karena syarat utama melakukan poligami adalah "harus adil"...
Telah pula diwahyukan kepada Rasululloh SAW untuk bersikap "adil" dalam ranah Rasisme.... suatu ranah yang terkait dengan telah diciptakanNya ummat-ummat manusia dalam berbagai ragam perbedaan warna kulit, ciri bahasa dan aspek rasial sebagaimana diterangkan dalam Surat Al Hujurat.... dimana semua ragam perbedaan itu adalah dalam rangka litaruffi...saling mengenal "pembeda" antara ras yang satu dengan ras yang lainnya ..... dari sekedar mengenal perbedaan warna kulit hingga mengenal tabiat baik-buruk dari suatu kaum....
Dalam hal tabiat buruk suatu ras.... maka tak dapat terelakan lagi (bagi siapapun jua) untuk timbulnya rasa manusiawiyyah berupa "kebencian" terhadap tabiat buruk suatu kaum tersebut...
Namun Kebencian dalam bentuk apapun .... janganlah pernah membuat sesama manusia beriman untuk tidak berlaku adil...... berlaku adil-lah terhadap setiap nilai kebaikan atau keburukan suatu kaum atau ras.... karena hal itu lebih dekat kepada derajat taqwa...amin.
Dan rasululloh SAW adalah insan yang sangat tinggi "taraf keadilannya" ... dan beliau secara tak terbantahkan adalah pelaku "suci" poligami dan sangat membenci tabiat buruk dari suatu kaum (rasisme yang berdampak positif dan menuntun penghapusan tabiat-tabiat buruk suatu ras)....
Pendek kata ... dengan keadilan-lah maka standar of procedur (SOP) dalam berpoligami dan berlaku rasis akan "dijamin" berujung kepada keberkahan ....kebaikan yang terus menyemburat demi raihan rahmatan lil-alamin... rahmat bagi seluruh alam...sebentuk Rahmat-Nya yang tidak sebatas rahmat bagi sang istri pertama semata... atau istri kedua semata...istri ketiga hingga ke-empat semata... dan tentu saja tidaklah sebatas rahmat kepada kaum berkulit putih semata... atau kaum berkulit hitam dan kulit kuning semata.....
Daripada terus menerus tiada henti dan menghujat habis-habisan praktek Poligami dan Rasisme.... maka alangkah lebih baiknya jika kita semua ....orang-orang muslim yang pasti beriman... untuk berusaha sekuat mentalnya menetapi keadilan ... baik keadilan dalam lingkup pribadi dan keluarga ... maupun keadilan dalam lingkup yang lebih luas dalam kapasitas ras-ras yang berbeda yang membentuk Ummah yang Satu ....Wahidul Ummah....
Jikalau setiap diri telah menetapi keadilan dengan sesungguhnya... maka apalah salahnya jika kemudian Alloh Azza wa Jalla "mengizinkan" seseorang itu untuk menerapkan SOP poligami dalam sisa hidupnya??....
Apalah salahnya setelah melihat dan merasakan tabiat-tabiat buruk dari suatu kaum.... kemudian menuntun dirinya untuk berlaku "rasis" ... seraya sikap rasis tersebut selalu saja dikendalikan dengan "keadilan".... hingga dengan keadilan dalam rasisme semacam itu akan berdampak "positif" dalam memberangus dan meniadakan tabiat-tabiat buruk dalam suatu ras atau kaum...
maka bertanyalah sekali lagi .....apalah salahnya jika setiap diri berpoligami dan berlaku rasis... selama setiap diri itu tetaplah berlaku "adil"??....
Dan jika jawab yang tercetus dalam hati pembaca semua adalah tetap "menyalahkan" praktek Poligami dan rasisme oleh seseorang... maka segeralah hujatlah "kemaksuman" Muhammad Rasululloh SAW.... sebagai tanda bahwa dalam diri dan benak anda belumlah bersemayam "taraf keadilan" sebagaimana telah dianugrahkan Alloh SWT kepada sesosok insan suci bernama Muhammad ... khotaman Nabiyyin... yang telah sukses dengan keadilannya menetapi episode poligami dan sukses pula dalam penghapuskan tabiat-tabiat buruk dari ras tertentu
atau mungkin sikap menyalahkan SOP poligami itu muncul dalam benak anda karena melihat berbagai "kesalahan" dalam praktek poligami di masa kini..... maka seyogyanyalah anda harus mulai belajar "adil" dengan cara menyalahkan "sikap" dari setiap pelaku poligami karena personaliti-nya tidak berlaku "adil"....
atau mungkin timbulnya sikap menyalahkan Rasisme dalam benak anda itu ... karena melihat kebencian tiada tara dari Hitler yang "katanya" tega menghabisi Ras Yahudi.... atau setelah melihat kebencian kaum kulit putih penganut Politik Apartheid yang begitu membenci hitam legamnya kulit Ras Afrika......maka seyogyanyalah anda harus tetap berlaku "adil" dengan cara menyalahkan "sikap" dari Adolf Hitler karena tidak berlaku "adil" dalam membenci kaum Yahudi....dan menyalahkan pula sikap kaum Apartheid yang menerapkan rasisme atas semangat "kebencian" semata....
Juga alangkah naifnya jika seseorang telah merasa dirinya menjadi "ratu adil" atau menjadi ponggawa "partai keadilan" .... tetapi ternyata dirinya belum di-izinkan Alloh SWT untuk berpoligami karena "selalu" takut tidak bisa berbuat "adil"
Akibat Phobia yang selalu takut Kalau-kalau tidak bisa berbuat adil.... maka taraf keadilan yang dianugrahkan kepada rasululloh SAW itu ...seakan-akan semakin menjauh untuk bersemayam dalam setiap diri muslim yang beriman....
Seorang Muslim laki-laki berkecukupan selalu merengek-rengek minta keadilan ... tapi emoh untuk berlaku "adil" hingga dimampukan-Nya untuk berpoligami...
Kaum muslimin terus merengek-rengek minta keadilan dari DK-PBB... tapi emoh untuk berlaku "adil" dalam menilai keburukan ras aria dan ras-ras lainnya... hingga keburukan dan ketidak-adilan dari ras-ras Aria tersebut semakin melembaga dalam ujud hak veto The Big Five...
Maka keadilan macam apakah yang ingin kita raih??.... jika indikator-indikator "keadilan" yang nyata-nyata ditetapkan dalam Al-Quran dan Assunah selalu saja kita tolak mentah-mentah...... kita tolak indikator keadilan bernama Poligami.... dan kita selalu tolak pula indikator taqwa yang menjamin menuntun setiap diri untuk berlaku rasis secara berkeadilan..... cag ah...Wassalam

Dikirim pada 15 Maret 2011 di Falsafah Dasar


Kabayan benar-benar tidak habis pikir dengan masih ditetapkannya status "Siaga Perang" oleh para pengikut ajaran Biodynamisasi yang masih diwariskan leluhurnya di kawasan Baduy Dalam...
Dan status siaga perang itu tidak pernah dicabut sejak Kerajaan Padjadjaran runtuh hingga saat ini... terbukti hingga kini masih berlakulah falsafah Jawara yang menyemburatkan suatu semboyan “Moal Miheulaan tapi moal Kapiheulaan” suatu ungkapan yang kurang lebih bermakna “Siaga Perang”… Tidak offensive dan mendahului menyerang pihak lain namun tidak juga defensive hingga dapat terserang lebih dahulu oleh pihak lain…. MasyaAlloh.....
Tentu saja falsafah jawara semacam itu sangatlah berbeda jauh jika dibandingkan dengan “typical” jawara masa kini yang banyak beroperasi di Karesiden Banten yang dengan Kawedukannya membuat mereka kebal peluru dan tahan bacokan senjata tajam (Katanya??) atau dibandingkan dengan para jawara yang beroperasi di wilayah Karesidenan Priangan yang beroperasi berdasarkan semboyan "Mencari Uang untuk Makan"...….

Akhirnya hal-ihwal mengenai penetapan siaga perang yang tak pernah dicabut sejak berlangsungnya penyerangan kaum sufisme ke Sunda Kelapa itu…. mulai mengusik hati Si Kabayan ketika seorang Presiden ber nick-name GUS-DUR pernah Sowan kepada para petinggi dan tokoh adat Baduy sesaat menjelang beliau dinobatkan menjadi Presiden ke-4 di Negara tempat Si Kabayan tinggal...
Saking penasarannya... Si kabayan tetap begitu rajin membuka situs wikileaks... seraya terus berharap memperoleh bocoran dari peristiwa sowan tersebut... tetapi tetap saja tak ada bocoran informasi sama sekali...
Mungkin karena di masa GUSDUR menjabat Presiden belum muncul Wikileaks... maka hingga kini tak ada bocoran sama sekali tentang isi pembicaraan antara GUSDUR dengan para petinggi tokoh Baduy kala itu... yang diperoleh kemudian hanyalah selentingan belaka …berupa rumor yang menyatakan bahwa beliau mempunyai garis keturunan dengan Lembu Tei …. Tokoh Leluhur Majapahit yang erat jalur nasabnya dengan lasykar mataram yang pernah tega menyerang lelulur Kabayan .. Namun kabar selentingan seperti itu tak pernah sempet di Tabayyun oleh si Ka-bayyan karena GUSDUR keburu Almarhum….
Akhirnya si Kabayan berketetapan hati "Sowan" kepada para tokoh di tanah para leluhurnya itu ...dan tak tanggung-tanggung hingga sowan kepada tokoh Pu”un Baduy Dalam yang tak mungkin ditembus oleh sembarangan orang....

Pulang Sowan terjadilah hal-hal aneh pada kelakuan si borokokok Kabayan....
Tiba-tiba saja dia berusaha mati-matian membeli Pistol Magnun beserta amunisinya walaupun dengan cara membelinya di Black Market.... membeli pula helm tentara nazi beserta rompi perang anti peluru ... dan juga giat berlatih beladiri kungfu ala Jet-li dan Ju-jitsu atau Tai-Chi ….karena di era globalization ini ternyata tidaklah mudah menemui Ahli beladiri Sunda aliran “Chi-mande” atau “Chi-kalong” yang dijamin benar-benar asli sesuai dengan “Holisme Sundawi”….
Tak lupa ….Kemudian si Kabayan membeli 7 Pasang Ayam Cemani unggulan…. Jauh-jauh dia beli bibit ayam itu langsung dari daerah Kedu karena produktifitas ayam tersebut dikenal unggul sebagai unggas penghasil telur dari ras local...
Juga berusaha satekah-polah membeli seekor pejantan Kambing Etawah beserta 20 ekor kambing betinanya dari India sebagai ternak penghasil susu... disertai pula dengan memelihara sepasang kelinci Rex dari Australia sebagai ternak penghasil daging.... dibeli pula Benih wortel.... Benih Ketimun dan aneka benih tanaman pangan lainnya... bibit jeruk lemon dan jeruk purut... dan tak ketinggalan beraneka ragam benih tanaman obat keluarga (Toga) sebagai sumber herbal dan obat-obatan non kimiawi.
Dan yang cukup mengherankan adalah Polah Si kabayan yang begitu sering mondar mandir ke Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) bersama beberapa petani lainnya... yang belakangan diketahui ternyata berkaitan dengan upayanya untuk mensertifikasi Tanah-tanah pertanian baik yang dimilikinya maupun yang dimiliki oleh para petani di sabudeureun lahan Si Kabayan...
Polah aneh lainnya adalah tiba-tiba Si Kabayan tampil lugas menjadi Aktifis perluasan Taman Hutan Raya (Tahura) Juanda... mungkin hal itu dia lakukan berkaitan dengan beberapa lahan tanah pertaniannya yang bergantung kepada pasokan sumber air dari Mata Air yang berasal dari Kawasan Tahura Juanda...
Tak ketinggalan pula dengan upayanya meniru kebiasaan urang baduy yaitu membangun leuit... lumbung padi.... di belakang rumahnya... yang difungsikan pula sebagai gudang penyimpanan benih dan bahan pangan lainnya... Dan tak kalah hebohnya adalah "aksi" diversifikasi pangan dengan cara tidak melulu makan "nasi" dalam menu hariannya...yang kemudian dia dapat gantikan dengan "bubuy hui" Cilembu... kadang-kadang dengan "beuleum sampeu"... bahkan pernah pula dengan "urab jagung"... atau “kulub taleus” Bogor.

Dan akhirnya tampil-lah Kabayan dengan style “ghuroba”.... nyeleneh dan aneh yang lain dari biasanya.... setiap pagi dia berangkat ke sawah dan lahan pertaniannya dengan cara nyoren pistol magnum.... bertopi helm nazi pengganti kopeah nyengsol yang selama ini menjadi ciri khasnya... Pada kain sarung yang melilit tubuhnya pun diselipkan Magazen, iPod dan PC tablet tercanggih tuk memudahkan komunikasi dan up-date informasi.
Semua tingkah polah “ghuroba”nya seperti itu tentu saja semakin mengherankan bagi sebagian besar orang sunda kiwari yang mengenal si kabayan “semata-mata” sebagai Tokoh Pandir si Borokokok....
Apalagi kini tingkah Kabayan semakin menjadi-jadi dengan menerapkan langkah-langkah yang berdampak “sistemik” yaitu merekrut tenaga kerja dari kalangan aktifis mesjid untuk dilatih mengelola lahan-lahan pertaniannya..... sembari dilatih pula dengan ilmu beladiri dan kemiliteran ala Mujahidin Afghanistan...
Juga bersama para petani lainnya ...dan beserta unsur masyarakat Bandung Raya yang masih menjungjung tinggi nilai-nilai “kehanifan” ...mereka bersama-sama Si Kabayan menerapkan prinsif Tei-kei ...suatu pola Ta”awuni saling tolong-menolong dalam kebajikan ala petani organik dalam masyarakat Jepang... Hal itu mungkin dipicu oleh informasi dalam buku “The One Straw Revolution” karangan Tuan Masanobu Fukuoka versi original yang belum sempet di sensor oleh orang-orang reduksionist yang memegang otoritas ketika jaman Orde Baru masih berlangsung.
Ketika orang-orang Sunda kiwari semakin terheran-heran dengan semua tingkah “ghuroba” pada diri Si Kabayan.....maka akhirnya mereka bertanya tentang semua itu ... Si kabayan-pun dengan entengnya menjawab.... saya lagi membuat "Mafia Pangan" tukasnya... dengan tujuan agar Kabayan dan orang-orang hanif lainnya dapat bersemboyan "Makan untuk mencari Uang" dan dengan semboyan itu maka setiap orang hanif dapat terus makan demi terpenuhinya haq jasad lahiriah agar selalu fit dan mendukung tercapainya derajat “Ihsan” dalam peribadahan dan beramal sholih.....hingga dari jawaban polosnya semacam itu benar-benar membuat orang lain berkerut dahinya... sambil geleng-geleng kepala mereka lantas berlalu sambil bergumam... dasar si borokokok siah !!!... Bahkan MenKominfo-pun turut berkomentar dan kemudian berujar...Aya-aya wae si Kabayan mah...
Di lain pihak ... di Negara tempat Si- Kabayan hidup... terus berlangsung berbagai upaya pemakzulan terhadap presidennya....
Rakyat di negara tersebut juga pernah dihebohkan dengan kasus Mafia Pajak... Mafia hukum... dan mafia-mafia lainnya ...kecuali mafia Pangan yang sedang digagas oleh si Kabayan.
dan yang pasti... Sebagian besar rakyat di negara itu mempunyai semboyan hidup "Mencari Uang untuk Makan"...
Pada tahun 2009... rakyat di negeri itu selalu mencari uang agar dapat membeli beras “standar” seharga Rp. 7000,-/kg... mereka juga selalu mencari uang agar mampu membeli cabe yang tiba-tiba di tahun 2010 melambung harganya menjadi Rp. 100.000,-/kg nya...
Namun seiring dengan berlangsungnya "Global Warming" ... maka pergantian musim menjadi tak menentu juntrungannya.... hingga memicu berbagai pola cuaca ekstrim.... Timbul-lah banjir dan longsor dimana-mana.... Ditimpali pula dengan dahsyatnya letusan gunung-gunung api di Tanah Jawa yang berdampak hancurnya lahan-lahan pertanian.

Semakin hari kian bertambah pula jumlah penduduk di Negara Muslim(reduksionist) terbanyak di Dunia tersebut (yang tentu saja semuanya butuh makan).... mereka semakin rajin pula membabat hutan tuk sekedar menjual kayunya sebagai “cara mudah” dalam mencari uang untuk makan.... juga mengubah sawah-sawah penghasil padi menjadi pabrik-pabrik agar sebagian besar usia produktif di Negara itu bisa memperoleh lapangan kerja demi mencari uang untuk makan...
Lambat-laun hutan-hutan semakin gundul... sumber mata air semakin langka dan terus menyusut debitnya....Luasan lahan sawah-pun semakin berkurang karena kadong dijadikan areal pabrik dan perumahan elite.... hingga akhirnya tingkat produksi padi-pun semakin hari semakin berkurang karenanya....
Hingga Tahun 2010 semuanya tetap berlangsung normal... rakyat tetap giat mencari uang agar mereka tetap dapat makan.... mulai dari rakyat berpenghasilan kecil hingga Presiden dan para pejabat tinggi, ….para pengusaha besar, politikus, ahli hukum, dokter, …..para Profesor dan sarjana pertanian, ….Bankir dan sederet profesi lainnya di peradaban modern yang semuanya tetap bersemangat melakoni semboyan hidupnya yaitu "Mencari uang untuk makan"…. Bahkan koruptor sekelas gayus pun ternyata harus tega mencari dan mencuri uang dengan cara korupsi… Tentu saja hal itu dia lakukan agar dia juga tetap dapat “makan” ….bahkan dapat makan makanan yang uenak-enak walaupun harus ditempuhnya dengan terlebih dahulu keluar-masuk penjara secara illegal agar dirinya dapat berpelesiran dan berwisata kuliner ke Bali dan berbagai tempat lainnya di Luar negeri.
Maka dengan uang yang terus dicarinya itu.... semua rakyat dan Pemimpin di Negara itu dapat selalu makan nasi dan membeli beras "murah" yang kini pasokannya harus pula di-impor dari negara lainnya.... agar jumlah pasokan di dalam negeri tetap mencukupi dan tetap stabil pula harganya …..karena kini tak mungkin lagi jika harus mengandalkan pasokan produksi padi yang berasal dari negara si Kabayan sendiri akibat produksinya kian semakin merosot... Semua rakyat juga dapat membeli susu "murah" yang di-impor dari negara lain... pokoknya semua bahan pangan "murah" yang dibutuhkan rakyat di negara itu masih dapat dibeli dengan "uang"....

Tiba-tiba saja diawal Tahun 2011 berhembus angin demontrasi di kawasan negara-negara Afrika Utara... Presiden di dua negara Afrika tersebut dapat digulingkan oleh demontrasi rakyatnya.... dan salah satu faktor pemicu demo di negara-negara tersebut adalah dikarenakan mahalnya harga pangan yang tidak lagi mampu terbeli oleh rakyatnya.
Angin demontrasi pemakzulan itu semakin berhembus kencang hingga melanda pula ke negera-negara lainnya.... Termasuk berhembus pula kedalam benak para politisi di negara Kabayan hidup....
Kencangnya hembusan angin demontrasi tersebut gayung bersambut dengan upaya para politisi yang terus berusaha memakzulkan presiden di negara Kabayan ... Apalagi didukung pula dengan pola cuaca ekstrem akibat global warming yang kemudian telah cukup mengganggu siklus produksi pangan di negara-negara pengekspor pangan.... maka tiba-tiba saja di awal Tahun 2013.... dengan serta-merta melambunglah harga-harga pangan karena kelangkaan pasokan di negara si Kabayan.
Khalayak rakyat kecil menjerit karena tidak mampu lagi membeli makan dengan uangnya.... sementara untuk menanam tanaman pangan secara ekstensif sudah tak didukung lagi dengan ketersediaan lahan yang cukup luas karena telah banyak beralih fungsi menjadi kawasan industri dan perumahan.... Ditimpali pula dengan ghiroh para generasi mudanya yang sudah emoh untuk terjun bertani.... semuanya itu ternyata dipicu pula oleh semboyan masyarakat di peradaban modern yang lebih memilih opsi “Mencari uang untuk Makan”
Dan bersorak-sorailah para politisi sambil mengail ikan di air keruh.... Digiringlah Opini massa bahwa biang kesusahan penyebab mahalnya harga pangan ini adalah akibat kebijakan presidennya yang tidak mau memperhatikan "ketahanan pangan" bagi seluruh rakyatnya....
Harga beras tiba-tiba melonjak menjadi Rp. 20.000.- per kg... harga cabe rawit melonjak menjadi Rp. 250.000,-/kg.... susu bukannya semakin melorot tapi malahan semakin melonjak harganya menjadi Rp. 10.000,- per liter ….dan lonjakan harga-harga lainnya secara tidak terkendali...
Maka tanpa disuruh-pun rakyat di negara tersebut terprovokasi oleh para elite politik dan berdemo besar-besaran ke Istana negara... semua aktifitas rakyat tersedot hanya untuk berdemo menurunkan presiden "tertuduh"…. mereka tidak lagi mau peduli kepada diri dan keluarganya sembari meninggalkan “rutinitas”nya selama ini yaitu mencari uang untuk makan karena kadong termakan isu dan emosi tinggi yang menumpahkan segala biang kesusahan kepada Presidennya.... buntutnya kerusuhan berlanjut dimana-mana... semua rakyat berebutan bahan makanan yang menjadi teramat mahal dan langka...
Hingga akhirnya tergulinglah sang presiden karena “tak tahan” terus-menerus didemo oleh rakyatnya.... dan kemudian melalui Pilpres 2014 diangkatlah "Presiden baru" ditengah kelangkaan pasokan dan melambungnya harga bahan pangan yang tak bisa lagi terbeli dengan uang.... Dimana segala kebijakan presiden baru itu "ternyata" tetap saja tak kunjung merubah keadaan dan tak dapat menurunkan harga-harga pangan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya... (emangnya penurunan harga-harga itu kaya proklamasi …kitu??)… habis factor produksi dan pasokan bahan pangannya emang sudah demikian terbatas euy!!!... Dan elegi penderitaan rakyat di Negara Kabayan semakin menjadi-jadi... awalnya para petani dapat mengambil keuntungan sesaat (Windfall profit) dari melambungnya harga-harga pangan... Namun sesaat kemudian nasibnya berubah menjadi target bulan-bulanan rakyat yang "lapar" dan bertindak anarkis dengan cara mencuri, menjarah dan berebutan tanaman petani.... Hingga para petani besar yang masih berduit harus rela menyewa sekompi brimob untuk menjaga kebun-kebun mereka....

Dan semua ratapan kesusahan itu ternyata berhasil ditangkal oleh ulah Ghuroba si Borokokok Kabayan yang jauh-jauh hari telah mencetuskan konsep "Mafia Pangan".... dengan berbekal pistol magnum yang selalu diselipkan di pinggangnya ...siapa orangnya yang berani menjarah kebun dan sawah si Kabayan?.... siapa pula yang mau mencuri kambing etawah dan ternak lainnya milik si kabayan?... lawong semuanya telah dijaga oleh anak buah si Kabayan yang sholeh-sholeh dan telah pula dilatih beladiri dan kemiliteran... dan siapa pula yang berani mengerahkan massa untuk menjarah kebun-kebun Si kabayan…. Lawong masyarakat di sekitar lahan Kabayan turut-pula membantu mempertahankan kelangsungan produksi pangan dan keamanan kebun si Kabayan dari serangan para penjarah... Hal ini tiada lain adalah buah jerih payah Kabayan dengan anak buahnya yang telah menerapkan langkah-langkah sistemik berupa penerapan Tei-kei dan Coorporate Sosial Responsibilty (CSR) dengan cara turut membantu ketahanan pangan bagi masyarakat di sekitar lahan-lahan pertanian milik si Kabayan.... Pokok-e "Mafia pangan" yang digagas Si Kabayan benar-benar membawa hikmah tersendiri dan sekaligus pula memicu terbentuknya Sistem Keamanan Rakyat Semesta (HANKAMRATA) …Suatu system keamanan holistik.... seperti yang pernah dikumandangkan oleh Jendral A.H. Nasution ketika beliau masih menjabat Panglima KODAM III SILIWANGI.

Kini terkuaklah sudah Hikmah ….mengapa para pengikut ajaran leluhur Kabayan di kawasan Baduy "tetap" bersiaga perang terhadap serangan peradaban modern... seraya tetap mempertahankan pola hidup sederhana demi bersikap arif terhadap bahan pangan dan kelestarian alam di sekitarnya... sampai kapan-pun dan selamanya.....
Karena setiap manusia (siapa-pun dia) tetaplah butuh makanan dan ketentraman selama hidupnya … Dimana ketentraman hidup manusia dapat terganggu oleh ancaman kekurangan bahan pangan dan dapat terganggu pula oleh suatu bentuk “kekerasan” dalam kompetisi memperebutkan harta duniawi yang selalu dinilai dengan “uang”…… Oleh sebab itu, hingga kini masyarakat Baduy Dalam selalu melakukan tradisi “Seba Baduy” setiap tahunnya… yaitu sedekah bahan pangan dari urang Baduy kepada seke-seler Sunda kiwari yang telah berperadaban modern dan kadong bersemboyan “Mencari uang untuk makan” …. Tradisi Seba tersebut tiada lain adalah sebentuk Sindiran halus kepada masyarakat berperadaban modern… bahwasannya bahan makanan itu "sejatinya" tak perlu selalu dibeli dengan uang (sehingga dapat juga dibagi-bagikan secara gratis untuk menjaga ketentraman hidup bersama)... Dengan demikian, dapatlah ditarik pelajaran dari tradisi “Seba Baduy”... bahwasannya tanaman pangan tersebut haruslah dapat terus ditanam pada hamparan lahan pertanian yang tetap terjaga kesuburannya sebagai berkah dan Karunia Alloh SWT atas diterapkannya Sistem Pertanian Biodynamis Sunda Wiwitan yang selalu mengaitkan produksi dan aspek ketahanan pangan dengan aspek kewaspadaan terhadap "potensi" serangan peradaban modern …. Serangan dari kaum reduksionist yang hanya bergelimangan uang dan atau kekuasaan semata.... hingga mereka “secara tiba-tiba” dapat bertindak semena-mena manakala kebutuhan azasinya untuk tetap dapat makanan terganggu pasokannya....

Dengan demikian dapatlah “mudah” dimengerti mengapa status siaga perang itu tak akan pernah dicabut sampai kapan-pun…. oleh komunitas baduy dalam sebagai monumen hidup "militan Sunda-padjadjaran"
Apalagi jika mengingat kembali “modus” penyerangan kaum sufisme Jawa ke Pelabuhan Sunda Kelapa … yang kemudian memicu status “siaga perang” hingga kini….dimana dalih yang selalu ditulis dengan tinta emas dalam sejarah kaum muslim reduksionist hingga kini adalah dalam rangka “perang agama” demi mengusir kaum kafirin Portugis dari Sunda Kelapa an-sich,… Padahal dibalik “sucinya” perang atas nama agama tersebut …. tak dapat dipungkiri bahwasannya tersaji pula motif-motif lainnya (baik didapatkan dengan terencana ataupun muncul tiba-tiba selayaknya harta pampasan perang)….. yaitu motif ekonomis dan sosio-politik dari kaum Sufisme Jawa yang kala itu dikenal dengan nama Lasykar Mataram…
Motif ekonomisnya, yaitu berupaya turut teraupnya limpahan keberkahan “Tijaroh” yang pada awalnya hanyalah terlimpah diantara Masyarakat Sunda-Padjadjaran dengan Kaum Portugis dan para pedagang lainnya dari berbagai bangsa…. Sedangkan motif sosio-politik adalah mewujudkan kembali “kesempurnaan” Amukti Palapa yang sempat tertunda hanya gara-gara tidak tertaklukkannya Kerajaan Padjadjaran di kala Majapahit dan Patih Gajahmada masih berkuasa…. Kedua motif semacam itu dan beragam motif lainnya adalah “manusiawi” dan tidaklah akan pernah hilang dalam relung jiwa setiap Manusia dimana-pun dan sampai kapan-pun ….. Dan motif-motif semacam itu sering di-singgung pula oleh pemerhati sejarah penyebaran Islam di Tanah jawa... Dimana semua motif tersebut tidaklah dapt dilepaskan dari hasrat setiap manusia agar dapat hidup lestari karena “urusan” perutnya selalu terpenuhi berkat ketersediaan bahan pangan sebagai penopang utama dalam hidupnya…. sedangkan ketersediaan bahan pangan penunjang hidup tersebut hanyalah dapat diperoleh dengan 3 cara utama…yaitu dengan cara “menanam”… “jual-beli”.. atau merebutnya dengan cara bathil….
Jika kita telaah secara seksama maka dapatlah diketahui bahwa Kaum Sufisme dan lasykar Mataram adalah type masyarakat pesisir ….yang ghirohnya untuk “menanam” tanaman pangan tidaklah sekuat ghiroh “menanam” pada masyarakat petani, sehingga tersisalah dua cara alternatif lainnya yang lebih sesuai dengan prototype masyarakat pesisir…. Mau tak mau tingkat kestabilan pasokan pangannya tersebut harus dipasok dari pihak luar demi selalu tercukupinya kebutuhan kaum tersebut, .....tidaklah mungkin sepenuhnya dapat diproduksi secara "subsisten (dipenuhi seluruhnya dari sistema lokal) oleh masyarakat pesisir....
Kalaulah tidak ditambal-sulam dengan pasokan dari modus “jual-beli” bahan pangan melalui koridor “tijaroh” maka tidak menutup kemungkinan pula untuk merebut pasokan tambahannya itu dengan "cara bathil"
Padahal berkat koridor tijaroh maka tidaklah mengherankan jika pada masyarakat pesisir begitu terbuka peluang untuk tumbuh-kembangnya jiwa-jiwa pedagang… Namun tidak-serta merta menutup tercetusnya suatu pilihan untuk melakukan perebutan dengan cara bathil yang memicu tumbuhnya jiwa-jiwa ekspansionis… suatu curahan jiwa masyarakat pesisir yang begitu bergairah jika dirinya berhasil menjajah pihak lain. Maka tidaklah mengherankan jika gelora menjajah yang pernah dijelmakan dalam "Amukti Palapa-nya Gajahmada" itu.... dapat kembali bergelora dan tersalurkan "ghirahnya" itu dalam suatu dalih Perang agama yang dikumandangkan oleh kaum Sufisme Jawa... sembari kemudian terselip pula motif ekonomis dan sosio-politik seperti dipaparkan di atas… Naudzubillah.

Berbeda halnya jika kita bandingkan dengan Prototype masyarakat Petani…. Dimana urusan perut hingga hajat hidupnya dapat segera terpenuhi dengan memilih opsi “menanam” tanaman pangan atas inisiatif diri (subsisten)… dan jika produksi tanaman pangannya berlebih-pun maka tak tertutup kemungkinan terselenggaranya pilihan “jual-beli” dengan pihak lainnya. Hingga sangatlah kecil peluang untuk tumbuhnya jiwa-jiwa ekspansionis pada masyarakat petani karena selalu terbuka baginya opsi “utama” agar dapat terus “Makan untuk mencari Uang”…. Maka jelaslah sudah perbedaannya dengan nasib masyarakat pesisir dimana mereka harus selalu memilih opsi utama “Mencari uang untuk Makan”… atau "Mencari kekuasaan (melalui menjajah) untuk dapat terus makan" terutama ketika mereka tidak mempunyai uang yang cukup untuk selalu beli makanan,
Maka tidaklah mengherankan, jika dalam rangka tetap menjaga terpenuhinya pasokan pangan dan tentramnya urusan perut mereka … Tiba-tiba saja meraka akan begitu mudah menjustifikasi pilihan “menjajah” pihak lain seperti halnya ditunjukkan dengan Penyerangan Kaum Sufisme Jawa Ke Sunda Kelapa… yang pada akhirnya penyerangan itu memicu kesadaran alam bawah sadar pada masyarakat militan Sunda-Padjadjaran untuk selalu ber “siaga perang” dan kesadaran semacam itu terus diwariskan hingga kini kepada Generasi Sunda Wiwitan di Kawasan Baduy (yang berbeda sangat nyata dengan klaim Sunda Wiwitan di wilayah Banten lainnya atau di wilayah Cigugur Kuningan) …
…. cag ah... Urang tunda di hanjuang siang ..simpeun dihandeuleum sieum....

Dikirim pada 18 Februari 2011 di Pertanian Biodynamis


Menyelisik Langkah-langkah Syetan (Jilid-3)
Aku berlindung kepada Alloh Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari godaan syetan yang terkutuk... (HR Ibnu Sunni dari Anas r.a)
Setelah menyimak paparan pada Jilid -2 dimana kita dapat memahami hakikat dan Anatomi Kesombongan... yang tiada lain dipicu oleh langkah reduksionisasi terhadap keutuhan dan kelengkapan komponen penyusun segala sesuatu...
Maka selanjutnya nalar kita seakan dituntun untuk mudah dalam memahami maknawiyah "kesombongan" yang seringkali diartikan oleh para Ulama sebagai sikap pandangan dan atau prilaku manusia yang "Menolak Kebenaran".... sekaligus akan memudahkan pula dalam memahami hakikat dari ungkapan “Menyombongi orang sombong adalah shodaqoh” (at-takabburu ‘alal mutakabbir shodaqotun).
Mengapa demikian?
Prilaku manusia yang benar (Ash-Shidiq) dan Shodaqoh, dalam bahasa arab keduanya berasal dari akar kata yang sama yaitu sho-da-qof yang berarti "benar"....
Marilah kita usut seluk beluk untuk mengungkap hakikat "benar" tersebut ....dengan terlebih dahulu memperhatikan ulah manusia reduksionist yang berhasil menciptakan Patung taksidermi harimau setelah "mereduksi" keutuhan dan kelengkapan komponen penyusun dan anatomi tubuh harimau… hingga tersisalah komponen kulit kepala dan tubuh luarnya saja dari sosok si belang....
Walhasil,…terciptalah tampilan luar dari patung harimau "ciptaan manusia" tersebut yang sekilas sangatlah "serupa" dengan harimau "ciptaan" Alloh SWT yang merupakan sosok harimau dengan "sebenar-benarnya" harimau.
Lalu "benar"kah jika ada suatu pernyataan yang menyebutkan bahwasannya makhluq yang bernama harimau itu “anatomi utuhnya” sama persis seperti patung taksidermi harimau saja?... yang hanya terbuat dari komponen kulit kepala dan tubuh luar harimau saja??……. Jawabannya tentulah tidak!!
dan tentu saja sangatlah "tertolak" kebenaran dari pernyataan tersebut ….
Sebab harimau yang "benar-benar" harimau adalah sesosok makhluq Ciptaan Alloh SWT yang anatominya tidaklah sekedar tersusun dari komponen kulit kepala dan tubuh luarnya saja yang "belang".... Tengoklah secara mendalam terhadap komposisi anatomi sesosok harimau yang "benar-benar" harimau yang pasti terdiri atas paduan berbagai komponen penyusun tubuhnya… dan paduan berbagai komponen tubuh harimau tersebut pastilah berbeda sangat nyata dengan komponen multiseluler penyusun tubuh ayam atau kambing...
Sebagai contoh …komposisi anatomis dalam sosok si "belang" tersusun pula oleh komponen alat pernafasan dan pita suara harimau yang memungkinkannya "meng-aum" ... hingga tak mungkinlah baginya untuk berkokok apalagi mengembik…. dimana aumannya yang begitu meluluhkan hati manusia itu disebabkan oleh “spesifikasi” alat pernafasan dan pita suara yang berbeda sangat nyata dengan alat nafas dan pita suara ayam yang menyebabkan ayam selalu mahir "berkokok".... Terdapat pula komponen penyusun lainnya lagi, yaitu berupa alat dan saluran reproduksi harimau hingga dia mampu "melahirkan" dan tidak mungkin “menelurkan” anak harimau karena berbeda sangat nyata jika dibandingkan dengan “spesifikasi” alat dan saluran reproduksi pada ayam betina yang memungkinkannya mampu bertelur.... dan yang pasti.... terdapat pula komponen "Ruh" nyawa harimau beserta komponen-komponen lainnya yang berpadu-padan satu dengan lainnya menyusun keutuhan dan kelengkapan tubuh jasad lahir dan ruhiyah harimau yang "benar-benar" menjelmakan ujud harimau dengan anatomi seutuhnya sebagai salah satu makhluq yang diciptakan Alloh SWT.....
Dengan mencerna uraian "sedikit rumit" di atas..... hendaklah kita dapat benar-benar faham bahwasannya hanyalah dengan pandangan yang utuh menyeluruh dan lengkap (holistik/ Kaaffah) terhadap sesuatu hal... Maka akan lahirlah sikap pandangan dan prilaku yang "benar"... Ash-shidqu... Dimana pandangan holistik atau Kaaffah tersebut dikenal pula dengan istilah "Holisme" ..... suatu antiteses (lawan kata) dari “Reduksionisme” yang kini banyak dianut oleh kaum maghribi dan orang-orang “khalaf” yang selalu “khilaf” akibat mengedepankan berpandangan parsial (Juzz-iyah) yang dipicu langkah reduksionisasi terhadap suatu hal atau fenomena hingga menyeruaklah “khilafiah” di berbagai bidang kehidupannya.... Maka dengan tetap berpandangan secara Kaaffah maka nalar kita tidak akan "Menolak Kebenaran" dan tertipu dalam mengenal sosok harimau yang “sebenarnya” walaupun kemudian muncul harimau “Kajajaden” dalam bentuk robot harimau yang dapat mengaum dan menerkam sekalipun.
Cobalah tengok contoh kekhilafan yang terjadi akibat kita "mereduksi" keutuhan anatomi tubuh harimau (mengurangi keutuhan dan kelengkapan komponen penyusun tubuh harimau)....
Kita kurangi saja keutuhan dan kelengkapan harimau itu dengan cara menghilangkan satu per satu komponen penyusunnya .... misalnya kita hilangkan terlebih dahulu komponen "ruh" nyawa harimau.... maka serta merta kita dapati "bangkai" Harimau mati yang akan berbeda sama sekali dengan Harimau hidup nan utuh dan lengkap anatominya ketika dirinya "benar-benar" menjelma sebagai sesosok harimau sejati... atau selanjutnya kita reduksi lagi komponen lainnya penyusun tubuh harimau mati tersebut.... mulai dengan mereduksi komponen alat-alat dalam... yaitu dengan membuang komponen alat pernapasan... komponen alat pencernaan... dan komponen alat reproduksi harimau .... komponen urat atau daging harimau .... juga komponen tulang-belulang harimau......Dan pada akhirnya komponen yang tertinggal hanyalah kulit "belang"nya saja yang dapat diawetkan.... Hingga tidaklah mengherankan jikalau kemudian ada pepatah harimau mati meninggalkan "belang"...
Lalu terbersitlah langkah untuk menyusun ulang sosok "Harimau" dengan bermodalkan komponen kulit kepala dan tubuh luar harimau saja (yang merupakan hasil akhir dari reduksionisasi keutuhan tubuh "harimau").... Maka kemudian terciptalah patung taksidermi harimau.... yang secara sepintas “sama persis” dengan tampilan luar dari harimau asli.... Dan akhirnya kita benar-benar bisa bersikap “sombong” dengan cara menyepelekan aksi apapun dari patung harimau itu.... sebab walaupun aksi patung itu dalam style harimau menerkam… Tetapi tetap saja patung harimau itu tak mungkin bisa menerkam dan membahayakan diri kita…. Apapun situasi dan kondisinya.
Lantas "benar" kah kesombongan kita itu? ...Atau kemudian kita keukeuh berkeras hati untuk bersikap sombong pula dihadapan harimau yang hidup di Hutan Sumatra karena “sombong” berpandangan bahwa harimau Sumatra itu akan "sama persis" aksi terkamannya dengan style patung taksidermi harimau yang dapat kita sepelekan itu?? ...Maka celakalah kita jadinya jika tetap bersikap sombong dengan cara menyepelekan aksi menerkam nan mematikan dari harimau Sumatra yang benar-benar tampil dalam sosok harimau hidup itu!!.... yang masih utuh dan lengkap seluruh komponen penyusun tubuhnya….
Dengan demikian jika tetap muncul sikap dan pandangan orang “khalaf” yang keukeuh menyatakan bahwa aksi menerkam dari patung harimau (hasil reduksionisasi tersebut) adalah sama saja “sepelenya” dengan aksi terkaman harimau di hutan-hutan Sumatra.... Maka dapatlah dipastikan bahwasannya sikap dan pandangannya itu…tiada lain adalah sebentuk sikap "Menolak kebenaran" …. Yaitu menolak kebenaran tentang “Bahaya Maut” dari aksi terkaman Harimau Sumatra yang tidak bisa disepelekan dan pasti mematikan bagi jiwa sang “Penolak Kebenaran” walaupun dirinya bisa selalu "Menolak kebenaran" itu ketika berhadapan dengan patung harimau yang ujudnya hanyalah terdiri dari satu komponen kulit “belang”nya saja.
Jelaslah sudah suatu "bayan" dari si Ka-"bayan" yang begitu gamblang menjelaskan timbulnya suatu pandangan dari orang-orang “khalaf” yang selalu diakibatkan karena “tega” mereduksi keutuhan sesuatu hal, sehingga muncullah dalam dirinya suatu sikap dan pandangan yang "menolak kebenaran"...dan kemudian menjerumuskan dirinya ke gerbang kesombongan yang nyata… Padahal sekiranya kita selalu mampu bersikap dan berpandangan utuh serta Kaaffah terhadap suatu hal maka kehadapan nalar dan nurani kita akan selalu terbentanglah fakta “kebenaran” yang tak bisa “tertolak”… hingga tak mungkin lagi terdapat suatu celah untuk munculnya berbagai “khilafiah” dalam setiap aspek kehidupan manusia…. Subhanalloh.
Hingga semakin jelaslah pula korelasinya…. mengapa dengan dianutnya segala bentuk faham reduksionisme maka sikap dan pandangan para penganutnya dapat terjerumus ke gerbang anatomi "Kesombongan".... hingga dirinya selalu "Menolak Kebenaran".... hingga dirinya merasa "besar" (Takabur).... hingga dirinya merasa "lebih baik"...
Dimana semua bentuk kesombongan seperti itu... yang menolak kebenaran itu... yang merasa dirinya besar itu... yang juga merasa dirinya lebih baik tersebut... Tiada lain semuanya adalah sikap pandangan dan sifat-sifat dari Iblis serta syetan... yang mereka semuanya tercipta dari "Api"....dimana daya kerja dari api adalah dapat membakar kayu bakar seraya mereduksi berbagai macam komponen kimiawi penyusun kayu bakar tersebut hingga akhirnya hanyalah tersisa komponen karbon dan mineral saja dalam seonggok abu sisa pembakaran …dan tidak mungkin lagi bagi nalar-logika kita untuk "Menolak kebenaran" bahwasannya “abu” dengan komposisi seperti itu tidaklah sama persis komposisinya dengan sebongkah “kayu bakar” sebagaimana komposisi semula walaupun dalam kayu bakar tersebut terdapat pula komponen karbon dan juga mineral....
Sifat api yang sedemikian “mereduksi” segala sesuatu tersebut pada awalnya dipunyai oleh iblis dan setan ….Namun kemudian diikuti dan dilestarikan pula oleh orang-orang “khalaf” dan kaum reduksionist dengan cara menganut reduksionisme dalam langkah hidupnya....Sehingga “kebenaran” hakiki Ash-Shidqu kemudian direduksi menjadi “khilafiah” dan relativitas yang memunculkan “derajat kebenaran” …. Memunculkan pula sikap “kurang benar” … juga muncul sikap ”agar benar”…hingga tercetuslah suatu sikap “pembenaran” terhadap hal-hal yang “tertolak” kebenarannya sekalipun…yang semuanya itu tiada lain adalah sebentuk sikap, pandangan dan anatomi Menyombongkan diri ala Iblis dan syetan…
Oleh sebab itu, Ka-“bayan” sangat setuju dengan dikembangkannya suatu daya upaya “counter-attack” reduksionisme dari para penganut holisme yang dikemas dalam ungkapan penuh hikmah at-takabburu ‘alal mutakabbir shodaqotun yang akan kita bahas lebih lanjut “daya dobraknya” pada jilid ke-4….Bersambung.


Dikirim pada 09 Februari 2011 di Khittah Reduksionist

Menyelisik Langkah-langkah Syetan (jilid2)

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Aku berlindung kepada Alloh Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari godaan syetan yang terkutuk... (HR Ibnu Sunni dari Anas r.a)
Ingatlah ketika Alloh SWT bertanya kepada Iblis moyangnya syetan,
"(Hai Iblis) apa yang menghalangimu untuk tidak bersujud (kepada Adam) ketika Aku memerintahkan kamu?
Iblis berkata : ana khoirum minhu (aku lebih baik daripadanya). Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia (Adam) Engkau ciptakan dari tanah"..(Q.S Al Araf ayat 12)
Maka simaklah umangkeuh Iblis yang dengan lantangnya meng-klaim dirinya "lebih baik" ana khoirum minhu.
Dan ternyata klaim "lebih baik itu" tak akan terbantahkan sampai kapan-pun.... dan Al-Qur´┐Żan nyata-nyata menjamin 100% klaim iblis moyangnya syetan itu...
Timbullah pertanyaan yang mengelitik qolbu .... mengapa Iblis yang terbuat dari api sedemikian lebih baik dari Adam?.....yang terbuat dari tanah?..
Untuk memahami hal itu .... marilah kita kaji dengan ayat-ayat kawniyyah tentang perbedaan nilai "komposisi" dari komponen penyusun api dan tanah...
Secara kimiawi api hanyalah muncul akibat berpadunya tiga unsur komponen api, yaitu adanya komponen Oksigen (O2)...komponen panas (kalor)... dan tersedianya komponen bahan yang bisa "terbakar"...
Satu saja dari tiga komponen itu tak terpenuhi (misalnya tak ada komponen oksigen) maka tak mungkin ada nyala api yang mampu menyala dan membakar bahan yang dapat "terbakar".
Bandingkanlah dengan dengan komposisi unsur penyusun tanah.... sangatlah beragam komponen penyusunnya...
Untuk "komposisi" tanah yang subur maka komponen penyusunnya sangatlah beragam... selain terdapat komponen Oksigen...dalam tanah-pun terkandung pula komponen lainnya seperti Carbon, Nitrogen, Hidrogen, Zinc, Aluminium, Fe, Mn, Ca, Mg dan sebagainya.... Poko-eeee... secara kimiawi ...Minimal komponen penyusun dari Dzat tanah dapat terdiri atas unsur "alkali" atau "alkali tanah" dan unsur gas... yang jumlahnya dapat mencapai 80-an komponen... (walau dalam setiap tekstur tanah tidaklah selalu seragam dan berbeda-beda variasi komponennya).

Maka dengan menggunakan hukum kesederhanaan dapatlah kita ketahui dan fahami ....mengapa "api" lebih baik dibandingkan dengan "tanah".

Api hanyalah terdiri dari 3 komponen penyusun.... sedangkan tanah dapat terdiri atas 80 komponen penyusun.

Jika suatu wadah Nafsiah disii hanya dengan 3 komponen saja.... maka secara pukul rata ... nilai masing-masing komponennya dalam suatu wadah nafsiah itu nilainya berkisar atas hasil pembagian 100 : 3 = 33,3333%.
dan tentu saja dalam suatu wadah nafsiah yang berisikan 80 komponen, maka nilai masing-masing komponen didalamnya adalah 100 : 80 = 1,25%.

Maka hujjah dan logika matematik yang mana lagi yang dapat menggugat keabsahan derajat suatu nilai 33,33 % yang terbukti dengan sah dan menyakinkan adalah "lebih baik" daripada nilai 1,25%.

Inilah bayan dari Kebenaran Al-Quran yang telah menjamin umangkeuh (klaim) "lebih baik" yang di"besar-besarkan" Iblis sebagai dzat nan sombong yang terbuat dari api... dibandingkan dengan Adam yang terbuat dari tanah.

Dari Ayat-ayat kawniyyah yang menerangkan perbedaan nilai komposisi komponen penyusun api dan tanah ... seperti diuraikan di atas... Hendaklah kita benar-benar dapat memahami pula ... mengapa hakekat "kesombongan" ala Iblis moyangnya syetan itu, dalam Al Qur"an dinyatakan dengan istilah "Takabur"... yang maknanya berkonotasi "besar" dan "lebih besar".... atau "membesar-besarkan".
Tidakkah kita memahami bahwasannya nilai 33,33 % menunjukkan "hakikat" dzat yang besar dan lebih besar dari nilai dzat yang hanya 1,25%....??

Dengan mencerna uraian "sedikit rumit" di atas.... tak ada salahnya jika kita kemudian bertanya kepada setiap nafsiah... mengapa Alloh SWT selalu menyuruh kita berbuat "ihsan" dalam beramal sholih?..... dan tidak memilih istilah "khoir" (lebih baik) yang sering disandangkan hanya untuk men-sifati kebendaan?.... Bahkan untuk kebaikan di dunia dan akhorat kita diajrkan untuk menggapai "Hasanah" dan bukan Khoiron.
Dan salah satu jawabnya adalah agar kita selalu dapat mawas diri dan dapat "terbebas" dari hakekat sombong "takabur" akibat merasa telah beramal "lebih baik"... akibat berkemampuan "lebih besar" ... atau merasa "besar" dalam segala hal..... yang semuanya itu telah terbukti dilakoni oleh Iblis dan seluruh syetan ...dimana mereka (Iblis dan syetan) telah merasa "lebih baik" ana khoirum minhu dan merasa "lebih dan lebih" dibanding makhluq lainnya..... naudzubillah.

Dan setelah kita sedikit "Ngeh" akan hakikat dan anatomi "kesombongan" yang pertamakali dikumandangkan oleh Iblis itu.... dan kemudian diteruskan oleh syetan-syetan... hingga selanjutnya diamali juga oleh sebahagian manusia yang mengikuti langkah-langkah syetan atau dikenal dengan istilah kaum "reduksionist"... yaitu orang atau kaum yang menganut reduksionisme... walau pada akhirnya orang atau kaum reduksionist itu merasa "lebih baik"... "lebih besar" kemampuannya dan merasa "besar" dalam segala hal.... Tiada lain tumbuhnya aliran reduksionisme seperti itu dapat dianalogikan karena terkandungnya unsur pembentuk api dalam komponen penyusun tanah... dalam arti tersimpannya potensi sifat-sifat syaithoniah laksana api dalam jiwa manusia yang terbentuk dari unsur-unsur tanah.

Seringkali kita melihat "api" dapat muncul dari dalam "tanah".... dan hal itu tidaklah mengherankan... sebab dalam tanah pun tersimpan komponen pembentuk api… ada unsur oksigen... tersimpan pula kalor (panas)... dan tentu saja tersimpan pula unsur-unsur yang dapat terbakar....

Fenomena munculnya api dari dalam tanah juga diakibatkan berlangsungnya proses "reduksionisasi".... (simak pula diuraikan dalam jilid satu dari bahasan menyelisik langkah-langkah syetan)....

Maka janganlah heran jika kemudian bermunculanlah manusia-manusia reduksionist yang telah terbukti "lebih baik" dalam pandangan sesama manusia tapi sejatinya mereka menampilkan pula anatomi "kesombongan" ala Iblis dan Syetan-syetan... Mereka dapat berpengetahuan "lebih baik" tapi patut disayangkan karena pengetahuan yang mereka sebar-luaskan hanyalah anatomi "kesombongan Intelektual" belaka.... mereka dapat mengolah rasa "lebih baik" sembari mengolah pula anatomi "kesombongan emosional".... Bahkan ada pula orang-orang pengamal ritual kebathinan yang "lebih baik" namun jelas-jelas amalan mereka serupa dengan anatomi "kesombongan spiritual"... dan merekalah ...orang atau kaum reduksionist... penganut langkah-langkah syetan (reduksionisme) dalam kehidupannya.

Semua bentuk dan anatomi kesombongan seperti itu berawal dari ulahnya dalam mereduksi kelengkapan sistem "kecerdasan" (quotient) yang dapat terdiri atas beragamnya bentuk-bentuk kecerdasan yang terpadu lengkap dan berimbang mengisi suatu wadah nafsiah setiap manusia sesuai fitrah penciptaannya....
Ibaratkanlah sistem atau wadah kecerdasan manusia secara fitrah itu terdiri atas 5 komponen kecerdasan.... yaitu Kecerdasan Intelektual (IQ)... Emotional (EQ)... Spiritual (SQ)... Adversitas (AQ) dan ... Creativity (CQ).... semuanya terpadu-padan dalam satu wadah nafsiah berupa sistem kecerdasan manusia "hasan" nan tawazun (berkeseimbangan) ....
Dengan kelima komponen kecerdasan yang diracik secara berimbang (tawazun) itu maka IQ manusia "hasan" hanyalah 20% nilainya... begitu pula dengan EQ-nya...SQ, AQ dan CQ-nya... semuanya bernilai masing-masing sebesar 20% saja.

Cobalah bandingkan dengan manusia reduksionionist.... yang sedemikian tega mereduksi (menghilangkan atau mengurangi nilai komposisi) satu-dua-hingga tiga komponen kecerdasan dalam wadah nafsiahnya demi “membesarkan” satu-dua komponen lainnya yang diingininya.... Namun selanjutnya berkat langkah-langkah syetan (reduksionisme) yang dianutnya tersebut...mereka dapat bergelar "lebih baik" dibanding manusia "Hasan nan Tawazun".
Tengoklah seseorang bergelar Profesor tapi Kufur.... IQ-nya bernilai 50% dan CQ-nya pun 50% pula ... ternyata kondite IQ dan CQ yang "lebih baik" itu diperolehnya dengan cara mereduksi (menghilangkan/mengurangi) tiga komponen kecerdasan lainnya EQ,SQ dan AQ dalam nafsiahnya.... sehingga efek samping dari IQ yang lebih baik itu telah berhasil melupakan "peran" Tuhan dalam setiap teori ilmiah yang dicetuskannya akibat ketiadaan SQ dalam nafsiah sang Profesor.... Dia mampu ciptakan pula teknologi yang "lebih baik" berkat CQ-nya yang lebih baik.... Tapi teknologi yang "lebih baik" itu sekaligus pula "lebih merusak" alam dan manusia lainnya akibat ketiadaan EQ yang berakibat menghilangnya rasa belas-kasih dalam jiwanya yang selanjutnya berimbas kepada teknologi ciptaannya yang “tidak ramah” terhadap kelestarian alam dan manusia lainnya...
Padahal dengan IQ sang Profesor yang 50% itu, sejatinya "lebih besar" dibandingkan insan hasan nan tawazun yang IQ-nya hanya 20% saja.... Maka tak terbantahkanlah ...bahwa Sang Profesor itu "sejatinya" adalah seseorang yang mampu menampilkan anatomi "kesombongan Intelektual" berkat menganut langkah syetan dengan cara mereduksi 3 unsur kecerdasan lainnya hingga angkaburi (menyombongkan diri) dengan cara "membesarkan-besarkan" intelektualitas dalam jiwanya..... Naudzubillah.

Begitu pula halnya dengan kiprah seniman reduksionist yg EQ dan CQ-nya "lebih baik" berkat mereduksi IQ,SQ dan AQ dalam jiwanya... Tumbuhlah kesombongan emosional karenanya dan terciptalah hasil seni yang "lebih baik" yang sekaligus berhasil memalingkan pandangan manusia lainnya terhadap kesempurnaan dalam penciptaan dirinya maupun orang lain hingga kesempurnaan makhluq lainnya yang diciptakan Alloh SWT dalam keseimbangan....semuanya akibat akibat hilangnya sentuhan IQ,SQ dan AQ dalam jiwanya sehingga tidak mungkin "turut-larut" tergambar dalam karya seninya.

Lain pula halnya dengan reduksionisme yang dianut oleh para pengamal kebathinan Sufisme yang tentu saja SQ dan EQ-nya "lebih baik" seraya mereduksi IQ, AQ dan CQ dalam jiwanya.... seakan dengan SQ-nya yang "lebih baik" itu maka Tuhannya sekalipun dapat diatur-atur Kuasa dan Kasih Sayang-Nya hingga sesuai dengan amalan-amalan ritual-bathiniahnya seraya mengesampingkan amalan lahiriahnya yang musti bertumpu kepada IQ,AQ dan CQ.... Hingga tumbuhlah kesombongan spiritual dalam benaknya..... Naudzubillah tsuma Naudzubillah..... (Bersambung).

Dikirim pada 08 Januari 2011 di Khittah Reduksionist
Awal « 1 2 3 4 » Akhir
Profile

Saya adalah seorang penganut kabayanisme.... manifestasi dari kehanifan Ki sunda menuju keluhuran akhlak dan komitmen menuju sistem muamalah islami dalam masyarakat sunda-padjadjaran. Orang banyak mengira bahwa si kabayan sebagai seorang tokoh pandir... padahal fenomenal-nya adalah korban dari upaya sistematis menghapus kehanifan ki sunda pasca penjajahan mataram hingga berujudkan tokoh paradoksal "Si Borokokok". Tak lekang oleh waktu adalah kehanifan menuju sistem islami yang kaaffah (islamic holisme), dimulai oleh leluhur sunda (prabu wangi) dengan cara menolak sufisme yang di klaim sebagai wujud islam hingga kini. Padahal sufisme adalah salah satu model pengamalan dari aspek mistis dalam keimanan tetapi bukanlah manifestasi utuh dari Dinul islam, apalagi ketika masuk ke tanah sunda sufisme telah berbalut feodalisme dan mistis jawa. Dan kabayan lahir sebagai pemberontak laten atas pereduksian kehanifan sunda oleh penjajah lokal maupun kompeni. Dan tetap menolak segala bentuk reduksionisme dan terus berjuang menuju sistem muamalah nan luhur yang kemudian dikenal sekarang sebagai sistem madani "egaliterianisme" berlandaskan Dinul Islam.... walahu`alam More About me

Page
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 357.881 kali


connect with ABATASA